Immanuel Kant, filsuf Jerman, pernah menyatakan, bahwa ada tiga pertanyaan mendasar di dalam filsafat dalam kaitan dengan hidup manusia. Yang pertama adalah, apa yang dapat kita ketahui? Kedua, apa yang harus kita lakukan? Dan ketiga, apa yang boleh kita harapkan? Pertanyaan pertama terkait dengan pengetahuan manusia. Apa yang kita ketahui mempengaruhi cara hidup dan cara bertindak kita di dalam menyingkapi sesuatu. Praktek manajemen bisnis dan filsafat jelas tidak pernah bisa dipisahkan dari hidup manusia. Pengetahuan kita juga membentuk dunia kita.
Pertanyaan kedua terkait dengan tindakan manusia dan prinsip-prinsip yang sebaiknya menjadi dasar dari tindakannya. Ini juga terkait dengan sikap kita kepada orang lain. Pertanyaan ketiga terkait dengan pemahaman manusia soal keindahan yang terdapat di alam dan seni hasil karya manusia. Filsafat, menurut Kant, hendak memberikan jawaban yang kritis, rasional dan sistematis terhadap ketiga pertanyaan tersebut dengan sepenuhnya menggunakan akal budi manusia. Filsafat tidak mengacu pada agama atau aliran kepercayaan apapun.
Tujuan dasar filsafat adalah memberi arah bagi hidup manusia, yakni arah menuju kebijaksanaan yang kritis, rasional dan sistematis. Dalam arti ini, tujuan utama filsafat adalah mengembangkan hidup manusia semaksimal mungkin sesuai dengan kemungkinan yang ia miliki. Filsafat manajemen bisnis juga dapat dilihat dalam arti ini, yakni sebagai upaya untuk mengembangkan bisnis di dalam perusahaan semaksimal mungkin, sesuai dengan potensi yang ia punya. Di titik ini, filsafat manajemen bisnis adalah bagian yang amat penting di dalam kepemimpinan sebuah perusahaan. Fokus kajian dari filsafat manajemen bisnis adalah hidup manusia sebagai individual dalam kaitannya tindakannya di dalam konteks perusahaan.
Oleh karena itu, beragam pertimbangan etis, sosial, budaya, religius dan biologis yang mendasari hidup manusia juga patut menjadi perhatian. Beragam aspek di dalam diri manusia ini juga menjadi tema dasar dari filsafat manajemen bisnis. Manusia memang adalah mahluk ekonomi. Namun, itu hanya satu bagian dari beragam dimensi manusia lainnya. Semuanya salilng bertaut erat, tanpa bisa dipisahkan satu sama lain.
Setiap pimpinan bisnis pasti harus berurusan dengan manusia-manusia yang memiliki beragam dimensi ini. Setiap pegawai, pelanggan ataupun partner perusahaan lainnya pasti memiliki beragam dimensi ini yang mempengaruhi perilakunya sehari-hari, terutama di dalam soal pembuatan keputusan. Manusia memang mahluk yang unik. Mereka memiliki satu kemampuan yang amat unik, yakni kesadaran diri.Mereka sadar, bahwa mereka sadar. Mereka tidak hanya hidup, tetapi juga memikirkan kehidupan. Mereka tidak hanya bekerja, tetapi berpikir soal penyebab sekaligus dampak dari pekerjaannya. Mereka memikirkan hampir semua hal. Mereka bertanya tentang alasan keberadaan mereka, atau tujuan hidup mereka. Tentu saja, semua ini menarik untuk tema penelitian ilmiah maupun filosofis. Namun, semua ini bisa menimbulkan kerasahan mendasar di dalam hidup manusia yang berujung pada beragam penyakit, baik fisik maupun psikologis, jika dibiarkan tanpa kendali.
Keberadaan manusia di dunia ini juga kerap menjadi obyek pemikiran. Manusia bertanya tentang hubungannya dengan mahluk hidup lainnya, dan juga dengan alam. Mereka juga kerap melihat dirinya sebagai pusat dari alam. Segala hal yang ada bertujuan untuk menopang kehidupannya. Mereka melihat dirinya juga sebagai tujuan pada dirinya sendiri. Mereka tidak merasa sekedar sebagai benda, melainkan sebagai seorang pribadi yang luhur pada dirinya sendiri. Setiap pribadi adalah berharga, unik dan tidak dapat ditukarkan dengan yang lain. Setiap manusia juga membutuhkan manusia lainnya. Mereka saling mendukung untuk mengobati rasa kesepian yang ada, dan untuk keperluan bertahan hidup. Dalam kebersamaan tersebut, mereka membentuk keluarga, masyarakat dan negara.Dalam kebersamaan itu, mereka berkembang sebagai sebuah spesies, dan membangun peradaban. Di dalam sela-sela kehidupan itu, selalu ada tegangan antara “aku” dan “kamu”, antara “aku” dan kami, dan beragam kategori-kategori buatan manusia lainnya.
Ketika “aku” terlalu menjadi fokus, maka orang menjadi egois. Ketika “kita” terlalu ditekankan, maka orang akan jatuh ke dalam kolektivisme. Kepentingan pribadi selalu dikorbankan demi kepentingan orang banyak. Di antara dua dimensi ini, ada dimensi ketiga lainnya yang amat menentukan hidup manusia, yakni kerinduan untuk mencapai yang lebih dari apa yang sudah dimilikinya sekarang ini. Manusia selalu terdorong untnuk mencari apa yang lebih dalam, lebih luas, dan lebih besar dari keadaannya sekarang ini. Ia mencari makna dan tujuan yang lebih dari apa yang sudah dimilikinya sekarang ini. Kerinduan ini menciptakan kecemasan dan tegangan besar di dalam diri manusia, jika ia tidak mampu mengaturnya. Di sisi lain, kerinduan ini juga merupakan tanda, bahwa hidup manusia selalu ada dalam proses. Hidupnya adalah proyek yang tidak pernah selesai. Hal ini membuka banyak kemungkinan untuk berbagai bentuk perubahan.
Kita bisa mengenal beragam perubahan yang terjadi ini, karena kita hidup dalam ruang dan waktu. Perubahan mungkin, karena adanya ruang dan waktu. Para filsuf dan ilmuwan telah lama berdiskusi tentang hakekat dari ruang dan waktu. Pertanyaan mendasarnya adalah, apakah ruang dan waktu itu sungguh ada sebagai sesuatu yang tetap di luar diri manusia, atau lebih merupakan konsep hasil dari ciptaan pikiran manusia? Jika diamati secara jeli, waktu dan ruang lebih merupakan hasil dari pikiran kita. Waktu yang biasa kita pahami, yakni sebagai masa lalu, masa kini dan masa depan, juga sebenarnya tidak ada. Masa lalu merupakan ingatan. Masa depan merupakan harapan. Masa kini segera berlalu, ketika kita menyebutnya sebagai masa kini. Ketiganya tidak ada sebagai kenyataan yang tetap, tetapi lebih sebagai bagian dari kesadaran manusia. Dalam arti ini, ada hal ketiga yang perlu dipertimbangkan, yakni kesadaran manusia. Ruang dan waktu ada sejauh itu terkait dengan kesadaran manusia. Dengan pemahaman ini, orang lalu bisa menata hidupnya sedemikian rupa, tanpa dijajah oleh ruang dan waktu yang merupakan ciptaan dari kesadarannya. Ini, pada hemat saya, merupakan hal penting di dalam kepemimpinan.
Dengan memahami ruang dan waktu dalam kaitan dengan kesadaran, manusia membuka ruang untuk kebebasannya. Kebebasan ini nantinya juga menjadi dasar bagi sikap kepemimpinan yang tepat, guna menyingkapi berbagai keadaan yang terjadi. Ia menciptakan kemungkinan-kemungkinan baru yang tidak melulu ditentukan oleh ruang dan waktu yang ada di sekitarnya. Pemahaman ini juga telah melahirkan pemahaman modern tentang dunia, bahwa manusia adalah subyek yang berhadapan dengan dunia sebagai obyek. Kita tidak melihat diri kita sebagai bagian dari dunia, tetapi sebagai sesuatu yang terpisah dan berjarak darinya. Pemahaman ini berakar begitu dalam di cara berpikir modern. Hasilnya adalah ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengabdi pada kepentingan manusia, tetapi merusak kehidupan alam dan mahluk hidup lainnya.Namun, cara pandang ini kini telah banyak ditantang. Seluruh insting di dalam diri kita sebagai manusia menyatakan, bahwa kita adalah bagian dari dunia, dan dunia adalah bagian dari kita. Keterpisahan hanyalah ilusi yang dihasilkan oleh kesalahan berpikir. Beragam tradisi agama, seni dan filsafat dari berbagai penjuru dunia telah berulang kali menyatakan hal ini. Kesadaran akan keterkaitan dari segala sesuatu di alam semesta ini juga menjadi bagian penting di dalam praktek manajerial dan kepemimpinan.
No comments:
Post a Comment
komentar