Search This Blog

Pikiran dan Kenyataan

Hasil gambar untuk Pikiran dan Kenyataan

Setiap pikiran selalu merupakan sebuah kemungkinan. Ia adalah benih-benih kenyataan. Pikiran akan mendorong sikap dan tindakan. Keduanya lalu akan melahirkan kenyataan. Ini adalah gerak hukum sebab akibat yang menjadi hukum dasar dari kenyataan. Ketika sebuah pikiran berkembang di dalam diri manusia, ia akan secara otomatis mengubah hidup dan kebiasaannya sesuai dengan pikiran tersebut. Maka amatlah penting bagi manusia untuk menyadari isi dari pikirannya dari saat ke saat. Ketika kesadaran ini hilang, maka pikirannya akan berjalan otomatis, tanpa kontrol. Kenyataan hidupnya pun lalu lepas dari pegangannya sendiri. Keberhasilan ataupun kegagalan dalam hidup seseorang juga amat tergantung dari pikiran macam apa yang dipelihara dan disadarinya dari saat ke saat di dalam hidupnya.

Di dalam wacana filsafat, cara berpikir manusia di dalam menanggapi keadaan dibagi menjadi dua, yakni optimis dan pesimis. Cara berpikir optimis mencoba melihat peluang dari beragam tantangan yang ada. Sementara, cara berpikir pesimis melihat kesulitan dari segala peristiwa yang terjadi. Orang-orang optimis sering dicap sebagai pemimpi. Mereka tak memiliki pijakan di kenyataan. Namun, kenyataan yang ada diciptakan oleh pikiran kita. Orang-orang optimis sering berusaha mengubah kenyataan sesuai dengan pikirannya. Mereka membawa perubahan ke dunia. Ini tentu memiliki sisi baik sekaligus sisi buruk. Sementara, orang pesimis cenderung untuk merasa kalah di hadapan segala perubahan dan tantangan yang ada. Ada nuansa pasrah dan melepas di dalam sikap hidupnya. Tegangan antara keduanya, yakni sikap pesimis dan optimis, tentu perlu untuk dicermati lebih dalam.

Orang optimis melihat peristiwa jelek sebagai sesuatu yang sementara. Dengan usaha yang cukup dan motivasi yang kuat, peristiwa tersebut akan segera berlalu. Sebaliknya, orang pesimis melihat peristiwa baik sebagai sesuatu yang sementara. Ia lalu mempersiapkan diri untuk krisis yang akan datang berikutnya. Sayangnya, media massa lebih menyukai berita jelek daripada berita baik. Berita jelek dianggap lebih menjual. Mereka lalu menyajikan berita yang tidak seimbang kepada masyarakat. Akibatnya, masyarakat mengira, bahwa peristiwa jelek jauh lebih banyak daripada peristiwa baik. Banyak orang berubah menjadi pesimis, akibat berita-berita yang tidak seimbang ini. Pada titik ini, kita tentu perlu menggunakan kemampuan berpikir kritis kita, sehingga tidak jatuh ke dalam sikap pesimis semacam ini. Orang yang pesimis berlebihan akan jatuh ke dalam depresi. Ia tidak bisa menjalankan hidupnya dengan baik. Sebaliknya, orang yang optimis berlebihan akan jatuh pada sikap naif. Ia akan terus tersandung pada masalah yang sama, tanpa pernah bisa belajar darinya. Menjaga keseimbangan antara sikap optimis dan sikap pesimis secara sehat menjadi kunci bagi kepemimpinan yang baik. Keseimbangan ini akan menciptakan pribadi yang kritis dan realistis.

Orang yang kritis dan realistis cenderung melihat segala sesuatu secara lebih mendalam. Mereka tidak terjebak oleh penampilan permukaan yang memang kerap kali menipu. Mereka juga mampu bekerja sama dengan orang lain, tanpa ikut arus begitu saja. Mereka bisa melakukan kritik, tanpa menyakiti orang lain. Secara umum, mereka lebih mampu menyesuaikan diri dengan segala perubahan yang ada. Dengan kemampuan ini, mereka lalu lebih bisa mewujudkan hidup yang bermutu. Semuanya berawal dari cara berpikir yang tepat di dalam melihat dunia. Cara berpikir yang dilatih dan digunakan secara rutin akan berubah menjadi prinsip hidup. Prinsip hidup yang secara konsisten diterapkan akan menciptakan sudut pandang yang menetap di dalam diri. Sudut pandang ini lalu akan membimbing semua tindakan yang dilakukan. Pada akhirnya, ia akan menetap menjadi kepribadian, atau karakter.

No comments:

Post a Comment

komentar

Ke Mana Semua Kekuasaan Menghilang ?

Bidang politik pun semakin banya ilmuan yang meng-interprestasikan struktur politik manusia sebagai sistem pemprosesan data. Sebagai mana ...