Search This Blog

Showing posts with label Bisnis & bisnis online. Show all posts
Showing posts with label Bisnis & bisnis online. Show all posts

Facebook Di Tahun 2024

Hasil gambar untuk facebook

Meskipun akhir-akhir ini  facebook sedang dilanda masalah nammun ternyata facebook telah mempunyai rencana matang hungga beberapa puluh tahun kedepan. Sekarang ini Facebook mungkin dikenal sebagai jejaring sosial terbesar di dunia, lalu bagaimana dalam 5 atau 10 tahun ke depan? Perkembangan di dunia teknologi Internet sangatlah tidak pasti, ada yang naik dan ada yang turun. Tapi ternyata Mark Zuckerberg sudah mempunyai rencana konkrit akan jadi seperti apa Facebook di tahun 2024. Ini dia gambaran Facebook di tahun 2024 nantinya.

Naik Turunnya Kejayaan Di Dunia Digital

Seperti yang telah dikatakan di atas, kejayaan dalam dunia teknologi online sangatlah tidak pasti ada yang naik dan juga banyak yang turun. 10 tahun sebelum sekarang ini, Friendster baru saja mulai memperkenalkan apa yang kita sekarang kenal dengan namanya jejaring sosial, dan Facebook hanyalah sekedar ide dari seseorang tidak dikenal bernama mark zukerberg.Bahkan ide dari Twitter dan Google+ saja belum ada.

Siapa yang menyangka bahwa jejaring sosial ternama Friendster pada zaman itu akan digantikan dengan sebuah jejaring sosial yang akan jauh lebih booming, tidak lain dan tidak bukan Facebook. Lalu apakah hal yang sama akan terjadi ke Facebook di 10 tahun ke depan? Menyadari akan hal ini, Mark Zuckerberg sebagai CEO facebook telah memiliki rencana konkrit akan bagaimana caranya mempertahankan kejayaan Facebook sebagai raja jejaring sosial hingga tahun 2024 nantinya.

Facebook Sekarang Ini

Sekarang ini Facebook mungkin terlihat dan dikenal sebgai raja jejaring sosial tapi nyatanya ia dapat dideskripsikan sebagai teknologi yang sudah mulai "membosankan." Sehari-hari dalam dunia Facebook hanyalah me-post gambar, status, artikel, atau video. Melihat apa yang di-post oleh orang lain, jarang-jarang menuliskan komen, dan secara garis besar hanya melakukan scroll ke bawah sembari membaca post-post orang.

Hal ini mungkin terdengar membosankan, namun tidak dapat dipungkiri banyak orang tetap melakukan hal ini. Hingga sekarang perkembangan Facebook tetap melaju dengan baik dimana sudah ada sekitar 1,23 miliar user terdaftar sebagai pengguna Facebook. Tidak hanya itu saja, Facebook juga terus memperluas 'pangsa pasarnya' tersebut dengan membeli berbagai aplikasi ternama seperti Instagram, WhatsApp, dan yang terbaru adalah Oculus Rift.

Facebook di 3 Tahun Ke Depan


Mark Zuckerberg mengatakan bahwa rencana Facebook di 3 tahun ke depan dari sekarang tidaklah berbeda banyak dari bagaimana Facebook sekarang ini. Tujuan mereka tetap akan memperluas komunitas di dalamnya dan juga membantu berbagai bisnis mencapai potensial optimal mereka. Mark tetap ingin mempertahankan kemajuan Facebook yang dapat dikatakan tetap relatif kuat yakni dari 1,23 miliar user yang terdaftar ada sekitar 864 juta orang menggunakan Facebook setiap harinya.

Kemudian Mark juga ingin lebih mempopularkan berbagai produk Facebook seperti platform video Facebook contohnya. Yang secara mengejutkan tidak kalah popular dari YouTube, pada saat "ice bucket challenge" sedang popular platform Video Facebook mereka telah menarik perhatian lebih dari 10 miliar penonton yang mencakup 440 juta pengguna. Hal yang serupa juga dapat terlihat pada perkembangan Instagram.

Dari sisi monetasinya, Facebook akan terus memiliki nilai tersendiri sebagai bidang pemasaran digital. Kualitas iklan dan artikel yang ditawarkan akan terus dikembangkan dan ditujukan untuk dapat mencapai orang-orang yang lebih tepat.

Facebook di 5 Tahun Ke Depan

Pada 5 tahun ke depan, Mark mengatakan bahwa rencana mereka adalah membawahi berbagai aplikasi layanan next-gen seperti Instagram, Messenger, WhatsApp, dan juga pencarian Facebook Graph untuk dapat menghubungkan miliaran orang dan memiliki nilai bisnis yang lebih daripada sekarang. Fokus utama akan lebih ke arah IM (Instant Messaging) melalui Messenger dan WhatsApp. Permulaan dari hal ini telah terlihat dari kemunculan aplikasi Facebook di smartphone-smartphone seperti iOS dan Android agar orang-orang dapat dengan mudah mengaksesnya tanpa perlu repot-repot buka browser. 

Kemudian dalam rentang waktu 5 tahun ini, Facebook juga akan menjadi dasar yang kuat bagi para developer untuk mengembangkan aplikasi-aplikasi mereka melalui platform Facebook, atau singkatnya menghubungkan tidak hanya dalam hal pengguna namun juga hal aplikasi. Hal ini dapat digambarkan seperti mereka ingin menjadi Android sekarang ini sebagaimana kita bisa melihat banyaknya smartphone-smartphone yang menggunakan Android sebagai OS mereka.

Facebook Pada Tahun 2024

10 tahun dari sekarang, Facebook akan mencatatkan perubahan penting dalam dunia yaitu dengan mulai mencapai misi mereka untuk menghubungkan seluruh dunia, kemajuan dalam hal AI (Artifical Intelligence), dan juga mengembangkan platform generasi lanjut.

Untuk mencapai impian masa depan ini, Mark sebagai CEO dari Facebook akan lebih agresif untuk melakukan investasi. Contoh nyata dapat dilihat dari akuisisi Oculus Rift. Oculus Rift adalah bentuk nyata dari komputasi masa depan, bahkan sebelum dirilis telah ada banyak sekali antisipasi akan produk tersebut dimana 100.000 developer kit (prototype) telah dikirimkan ke lebih dari 130 negara.

Di samping ini, sama halnya seperti Project Loon Google, Facebook juga ingin agar semua atau setidaknya 2/3 penduduk di dunia mendapatkan akses Internet. Hal ini ingin ia capai melalui Internet.org dengan tujuan utamanya yaitu menghubungkan semua orang di dunia. Internet.org dan Oculus Rift hanyalah 2 peluang yang terlihat sekarang ini, namun Mark akan terus mencari peluang lain yang tetap dengan tujuan akhir menghubungkan seluruh dunia.

Secara singkat, rencana Facebook baik untuk 3, 5, atau 10 tahun ke depan adalah mendapatkan pengguna yang lebih banyak melalui berbagai produk, seperti WhatsApp, Messenger, Search, Video, NewsFeed, Oculus, atau Instagram yang diharapkan untuk setiap produk dapat menghubungkan setidaknya 1 miliar pengguna. Sesudah hal ini dicapai maka setiap orang dapat terhubung dan monetasi lebih lanjut akan dilakukan.

"KOMODITAS dan UANG"

"Metabolisme Alam, Perkakas, dan Tenaga-kerja"

Transformasi Uang Menjadi Kapital’, dan ‘Produksi Nilai-Lebih Absolut’ adalah tiga bagian pertama dari Kapital Marx. Di bagian ketiga, ‘Produksi Nilai-Lebih Absolut’, Marx membukanya dengan bab berjudul ‘Proses Kerja dan Proses Valorisasi’. Bagian pertama sebelum masuk ke bab ‘Kapital Konstan dan Kapital Peubah’, ‘Tingkat Nilai-Lebih’, ‘Hari Kerja’, dan ‘Tingkat dan Massa Nilai-Lebih’.

Arti penting diskusi Marx mengenai teori proses kerja bisa dilihat dari beberapa buku yang bertumpu dari teori ini. Di tahun 1974, Harry Braverman, seorang eks-pekerja industri logam menerbitkan Labor and Monopoly Capital: The Degradation of Work in the Twentieth Century. Isinya adalah paparan sosiologi industri kritis atas teori manajemen produksi yang kemudian dikenal sebagai Taylorisme. Taylorisme dikenal luas sebagai model saintifik yang bertujuan meningkatkan efisiensi dan produktivitas di pabrik-pabrik. Dalam analisis kritisnya, Braverman menempatkan Taylorisme sebagai bentuk pengelolaan produksi kapitalisme lanjut yang secara sistematik terus mengikis dan menyingkirkan kerja-kerja berkeahlian. Braverman lebih lanjut melihat Taylorisme sebagai satu kemajuan metode eksploitasi kapitalistik. Konon sejak pertama terbit hingga tahun 1999, buku ini laku keras, terjual sekitar 120.000 eksemplar.

Di bidang lain, dua dekade ke belakang, ada orang-orang seperti Paul Burkett dan John Bellamy Foster yang menerbitkan buku-buku berjudul Marxism and Ecological Economics: Toward a Red and Green Political Economy dan Marx’s Ecology. Bedanya dengan Braverman, Burkett dan Foster dengan masing-masing cara mencoba mengangkat kembali aspek ekologis dari ekonomi-politik Marx. Bersama dengan rintisan terbitan catatan-catatan studi ilmu alam Marx, kedua buku ini mewakili arus hijau, semangat ‘kembali ke alam’, yang ramai menarik perhatian pengkaji Marx kontemporer demi menjawab isu-isu lingkungan yang semakin menghangat. Apa sebenarnya yang Marx tulis mengenai teori ‘proses kerja’ ini?

Cara pertama untuk memahami apa itu ‘proses kerja’ dapat kita lakukan dengan menempatkannya ke fase historis yang spesifik. Sejarah, bisa dipotong-potong ke berbagai kategori. Umpamanya kita membagi sejarah berdasar kalender masehi. Kita ambil jangka lumayan jauh dari tahun 1619-1917. Adakah proses kerja di dalam masyarakat sepanjang kurun itu? Dengan asumsi abad ke enambelas adalah fase pertama kalinya pasar dunia melebar ke sejumlah bangsa, dan keberadaan pasar dunia mengandaikan sejumlah besar kerja sosial, tampaknya sepanjang tahun 1619-1917, proses kerja telah hadir secara sosial. Marx sendiri lebih memilih membagi sejarah seturut corak produksinya. Di dalam bentuk pembagian ini, proses kerja dapat dikatakan juga hadir di semua ragam corak produksi. Lantas bagaimana jika kita bagi sejarah berdasar pembedaan yang Marx buat di bagian awal dari Kapital? Jika demikian, proses kerja ada di tahap sejarah produksi komoditas, ada pula di tahap sejarah produksi kapitalis. Namun soal yang terakhir ini Marx bikin sedikit pembedaan. Menurutnya, dalam tahap sejarah produksi komoditas, proses produksi adalah kesatuan dari “proses kerja dan proses penciptaan nilai”, sementara dalam produksi kapitalis, “kesatuan proses kerja dan proses valorisasi”. Kita tengok saja langsung dari si empunya teori:

“Sebagaimana komoditas itu sendiri adalah kesatuan yang dibentuk oleh nilai-guna dan nilai, demikian juga proses produksi adalah kesatuan, yang disusun dari proses kerja dan proses penciptaan nilai [Wertbildungsprozess]”

“Proses produksi, dipandang sebagai kesatuan dari proses kerja dan proses penciptaan nilai, adalah proses produksi komoditas; [proses produksi] dipandang sebagai kesatuan proses kerja dan proses valorisasi, itulah proses produksi kapitalis, atau bentuk kapitalis dari produksi komoditas”

Dengan demikian jika ditilik dari kerangka sejarah, proses kerja ada di produksi komoditas pra-kapitalis, dan ada di produksi komoditas kapitalis. Dari kutipan di atas bahkan bisa ditarik pernyataan: tanpa proses kerja tidak ada produksi komoditas, akan tetapi tanpa produksi komoditas yang ada hanya proses kerja. Begitu pula di masyarakat kapitalis, tanpa proses kerja tidak produksi komoditas kapitalis, akan tetapi tanpa produksi komoditas kapitalis yang ada hanya proses kerja. Penalaran sederhana ini bisa juga membawa kita ke mengajukan pertanyaan bagi fase-fase historis lain: proses kerja tetap ada di corak produksi non- dan pasca-kapitalis. Bayangkan sebuah negeri masa depan yang makmur-sentosa yang hidup tanpa penghisapan kelas. Dari mana mereka akan memperoleh kekayaan sosial?

Secara singkat, Marx mendefinisikan proses kerja sebagai proses penciptaan nilai-guna—“kandungan material dari kekayaan apapun bentuk sosialnya”. Penciptaan nilai-guna boleh dikatakan sebagai materialitas dari proses produksi yang mandiri dari bentuk-bentuk sosial. Menurut Marx, proses kerja, sumber kekayaan material, terdiri dari tiga unsur utama berikut:

1. Aktivitas yang bertujuan, yaitu kerja (labour/arbeit)
2. Objeknya, yaitu alam
3. Perantaranya, yaitu alat-alat/perkakas kerja

Proses kerja, bukan sekadar ‘kerja’. Marx bahkan amat spesifik mengenai istilah yang ia gunakan. Ia membedakan kerja yang berwatak sosial (labour/arbeit) dengan kerja individual (work/arbeiten). Lebih jauh, Marx juga membedakan antara kerja dengan tenaga-kerja (labour-power/arbeitskraft). Sementara tenaga-kerja adalah ‘kapasitas’ yang sifatnya potensial, kerja adalah aktualisasi dari kapasitas itu. Dalam teori proses kerja, Marx mengikutsertakan pula pembedaan antara objek (alam), subjek (kerja), dan penghubung antar keduanya (perkakas kerja).

Objek kerja [Arbeitsgegenstand] adalah segala yang dihasilkan oleh alam, dapat diolah kerja manusia, dan sekadar dipisahkan dari keberadaan langsung lingkungannya. Air, tanah dan segala yang tumbuh di atasnya adalah objek kerja manusia. Ikan yang dipisahkan dari habitatnya adalah objek kerja. Sedang sumber daya alam yang terletak jauh di bawah permukaan tanah, dan karenanya belum bisa dicapai oleh perkembangan perkakas dan teknologi manusia hingga saat ini, bukan objek kerja. Marx membedakan juga antara objek kerja dengan bahan mentah. Bahan mentah adalah objek kerja yang telah dikenai kerja lampau, dan dengannya siap dipakai (diproduksi). Menurut Marx, terkecuali di industri-industri ekstraktif seperti pertambangan, perhutanan, perikanan, dan pertanian (sejauh dimulai dengan membuka lahan baru), semua cabang industri terkait dengan bahan mentah. Bibit pertanian transgenik dari Monsanto, mengambil contoh, sudah merupakan produk kerja. Begitu juga dengan industri sapi yang, meski memakai produk alam, sesungguhnya adalah produk alam yang sudah didomestifikasi, sudah dikenakan kerja manusia lintas generasi.

Objek kerja berbeda dengan perkakas kerja: “Perkakas kerja adalah benda-benda, atau kompleks dari benda-benda, yang pekerja tempatkan antara dirinya dan objek dari kerjanya dan berperan sebagai sebuah konduktor yang mengarahkan aktivitasnya terhadap objek tersebut.” Biar begitu perkakas kerja, juga berasal dari alam. Dalam kerja, manusia “menggunakan sifat-sifat mekanis, fisik dan kimia dari sebagian unsur-unsur [alam] dalam rangka menggunakannya ke unsur-unsur lain sebagai perkakas dari kekuatannya, dan sesuai dengan tujuannya.” Tidak salah lagi, perkakas kerja adalah akal-akalan manusia menyiasati keberadaan organ fisik yang serba terbatas. Lari yang tidak secepat kijang, taring yang tidak setajam macan, penciuman dan pendengaran yang buruk. Manusia memang mahkluk tidak sempurna dan oleh karenanya mereka membuat perkakas kerja: batu perimbas, cangkul, pisau, kanal-kanal, jalan-jalan, bengkel-bengkel, dan mesin-mesin. Yang menarik dalam mendefinisikan perkakas kerja Marx tidak hanya mengacu ke wahana dan fungsi-fungsi fisikalnya saja. Ia menulis bahwa perkakas kerja adalah ukuran derajat perkembangan yang dicapai umat manusia. Di sini Marx mengingatkan kita pada para arkeolog dan pembabakan pra-sejarahnya. Marx juga menulis jika perkakas kerja “menandakan relasi-relasi sosial kerja manusia”. Hal ini jadi cukup menarik jika melihat istilah yang Marx gunakan untuk konsep relasi-relasi atau hubungan-hubungan produksi yang terkenal itu adalah Produktionsverhältnisse. Konon, istilah “verhältnisse” selain dapat diartikan sebagai “relasi-relasi” atau “hubungan-hubungan”, juga bisa sebagai “rasio-rasio”. Menurut saya istilah rasio mengandung unsur kuantitatif yang lebih kentara dibanding istilah relasi atau hubungan, yang terlalu umum cakupannya. Bayangkan: rasio-rasio produksi.

Selain pengertian masing-masing unsur ini, yang penting ditekankan juga adalah relasi konseptual antar ketiganya. Soal bagaimana Marx mendefinisikan relasi-relasi ini yang, hemat saya, membedakan Marx dari pemikir lain. Satu situs yang bisa kita tengok untuk memerika pengertian Marx soal relasi antara objek-subjek, relasi antara alam-kerja, ini bisa dilihat dari catatan-catatan Naskah-naskah Paris ini, “Kehidupan-spesies, bagi manusia maupun binatang, secara fisik terletak pada fakta bahwa secara fisik manusia (maupun binatang) menggantungkan hidupnya pada alam inorganik; yang menjadi fondasi dari hidupnya…Secara fisik manusia hanya bisa hidup dari hasil-hasil alam ini, entah mereka hadir sebagai makanan, penghangat, pakaian, tempat tinggal, dst…alam merupakan tubuh inorganik manusia, yakni alam sejauh itu bukan tubuh manusa. Manusia hidup dari alam (alam adalah tubuh-nya) dan ia mesti menjalin dialog terus-menerus dengan alam apabila ia tak ingin mati. Mengatakan bahwa kehidupan fisik dan mental manusia itu terhubung dengan alam sama saja dengan mengatakan bahwa alam terhubung dengan dirinya sendiri—sebab manusia adalah suatu bagian dari alam".

Bersama dengan tumbuhan dan binatang-binatang, manusia adalah spesies-spesies yang mengisi alam. Akan tetapi sebagai bagian, manusia bukan keseluruhan alam itu sendiri. Hilangnya bagian-bagian tidak mengimplikasikan hilangnya keseluruhan itu sendiri, melainkan hanya hilangnya konsep akan keseluruhan yang sebelumnya, untuk bertransformasi menjadi konsep keseluruhan yang baru. Sementara hilangnya apa-apa yang keseluruhan, misalnya fisik alam yang ada sekarang, mengimplikasikan hilangnya juga bagian-bagian. Itulah yang terjadi atas konsep alam sebagai keseluruhan ketika punahnya Dinosaurus jutaan tahun yang lalu—pengertian dari keseluruhan alam berubah. Namun dengan atau tanpa Dinosaurus, alam tetap berjalan sebagaimana adanya. Begitu juga dalam kasus spesies manusia.

Ini sebabnya pengertian inti Marx soal ‘kerja’ sangat memperhitungkan faktor alam. Kerja tidak lain adalah proses pertukaran metabolis antara manusia dengan alam. Tentu saja spesies-spesies lain selalu pula melakukan pertukaran metabolis dengan alam untuk memenuhi kebutuhannya. Oleh sebab itu Marx mengajukan dua ciri khas dari proses kerja manusia. Pertama, proses kerja manusia, sebagai pencurahan tenaga-kerja, adalah kerja yang diniatkan, direncanakan, dan bertujuan; Marx kerap dikutip berkat pernyataannya berikut, apa yang membedakan arsitek paling buruk dengan lebah terbaik adalah sang arsitek membangun bilik dalam pikirannya sebelum ia mengerjakannya dalam lilin. Pada akhir setiap proses kerja muncullah hasil yang telah dibayangkan sang pekerja pada permulaannya, dan karenanya sudah ada secara ideal.” Kedua, proses kerja manusia “dicirikan oleh penggunaan dan konstruksi perkakas kerja.” Spesies manusia tentu bukan satu-satunya mahkluk yang menggunakan alat kerja untuk bertahan hidup. Beberapa jenis primata, mamalia, bahkan unggas pernah terekam menggunakan alat untuk mencari makan. Namun penggunaan perkakas oleh hewan-hewan lain ini tidak tidak pernah beranjak dari bentuk perkakas yang digunakan oleh manusia pra-sejarah di era eolitik, paling banter hanya mirip kapak perimbas. Di hewan-hewan penggunaan perkakas juga tidak pernah jadi kebutuhan pokok. Hanya digunakan sesekali, dan ditambah tidak memiliki pola-pola yang diwariskan.

Terakhir, sebagai penutup, untuk menghindari kesalahpahaman, benar sekali jika dipandang proses kerja adalah prasyarat wajib keberadaan masyarakat sepanjang sejarah. Akan tetapi, kerja bukanlah sumber segala kekayaan, alam, sebagai objek kerja, juga sumber kekayaan. Yang dilakukan oleh kerja hanya mengubah bentuk-bentuk alam. Hal ini penting sebab ada perbedaan antara pengertian proses kerja sebagai abstraksi dari proses-proses produksi, dengan pengertian proses kerja di dalam kapitalisme. Reduksi sumber kekayaan ke kerja adalah konsepsi kesukaan dari kelas yang hanya dapat hidup dari penghisapan nilai yang diciptakan oleh kelas yang tidak hanya kehilangan akses ke objek dan perkakas kerja. Kelas yang sama yang juga kehilangan tenaga-kerjanya sekali ia menukarnya demi upah. Di Gotha, Jerman tahun 1875 Partai Demokratik Sosial Jerman (SPD) melaksanakan kongres merumuskan platform yang membuat Marx meluangkan waktu Kritik atas Program Gotha. Isinya adalah sebagai berikut:

“Kerja bukanlah sumber segala kekayaan. Alam juga sumber nilai-guna (tentu inilah yang membuatnya jadi kekayaan material!) seperti halnya kerja. Kerja itu sendiri hanyalah pengejawantahan daya alam, tenaga kerja manusia…Kerja manusia hanya menjadi sumber nilai-guna, dan karenanya juga kekayaan, jika hubungannya dengan alam (sumber utama dari segala sarana dan objek kerja) adalah hubungan kepemilikan sejak mula, dan jika ia memperlakukannya sebagai miliknya. Sangat masuk akal bila kaum borjuis menganggap kerja mengandung daya supranatural-kreatif, sebab ketika seseorang tak lagi punya kepemilikan apapun selain tenaga kerjanya, adalah ketergantungan kerja pada alam lah yang memaksanya—dalam setiap kondisi sosial dan kultural—untuk menjadi budak orang lain yang telah mengambil syarat objek kerja ke dalam pangkuannya. Ia membutuhkan izin mereka untuk bekerja—dan karenanya, izin mereka untuk hidup".

Misteri Eksploitasi

SERINGKALI kita mendengar atau membaca bahwa kapitalisme itu jahat dan dengan demikian bermasalah. Atau sebaliknya, kapitalis itu baik dan dengan begitu tidak bermasalah. Dengan kritik bahwa kapitalis itu jahat dan karenanya musti dilawan bahkan sampai menyematkan kategori kapitalis kepada perilaku, proses, sosok, atau hal-hal yang secara moral tidak baik seperti korupsi, keserakahan, Abu Jahal, dan Buto Ijo; atau sebaliknya dengan cinta bahwa kapitalis itu mulia dan dengan begitu harus dibela bahkan dengan menyematkan kategori kapitalis kepada nabi atau sahabat nabi, mereka lupa bahwa kapitalisme seperti yang Marx pelajari dan tulis itu bukan sistem moral.

Dengan anggapan keliru bahwa kapitalisme ialah sistem moral dan kapitalis itu kategori moral, para penghujat kapitalisme akan begitu mudahnya jatuh ke haribaan dosa musyrik dengan memuja-muji orang yang dianggap jago kritiknya terhadap kapitalisme, dan sebaliknya para pecinta kapitalisme begitu mudahnya jatuh ke dalam dosa su’udzon terhadap orang yang sama: Karl Marx. Para penghujat kapitalisme yakin Marx itu Sisipus yang menanggung batu kemiskinan demi membawa terang ilahi tentang kapitalisme sebagai sistem yang jahat kepada umat manusia di bumi. Sebaliknya, para pecinta kapitalisme yakin Marx itu iblis yang lahir dari kemurkaan dan dendam datang ke hadirat kita untuk menutupi terang ilahi tentang kapitalisme sebagai satu-satunya sistem yang baik. Meski yang satu memuja dan yang lainnya memaki, kedua-duanya berada di dalam keranjang yang sama, yakni keranjang evaluasi moral atas Marx dan kapitalisme.

Salah satu perkara yang menjadi ujung pangkal evaluasi moral itu ialah ajaran Marx tentang eksploitasi.

Sewaktu Marx menulis adikarya Das Kapital, di benaknya tidak pernah terbersit secuilpun pikiran bahwa kapitalisme itu baik ataupun jahat. Justru sebaliknya, pikiran moralis yang menggelayut di benak dan mulut pemikir sosialis sebelumnya, ditentangnya habis-habisan sebagai utopis. Sosialis-sosialis pra-Marx seperti Prodhoun atau para pengikut David Ricardo, misalnya, mengutuki kapitalisme sebagai sistem yang jahat nan tidak adil karena kekayaannya kapitalis tak lebih dari nilai curian hasil jerih payahnya pekerja. Dengan semboyan heroik dan mengharukan bahwa “kepemilikan adalah pencurian”, Prodhoun, kata Marx, justru membenarkan kapitalisme di jantungnya sendiri. Apa pasal? Dengan menyatakan bahwa kepemilikan itu sejenis pencurian, dia mengakui keabsahan moral kepemilikan kapitalis karena pencurian tak punya arti lain selain mengambil hak milik orang lain secara tidak sah. Persoalannya, apa yang kapitalis ambil dari proses produksi, yakni nilai-lebih, ialah sesuatu yang sah baik secara moral apalagi secara hukum. Bukankah pekerja sendiri yang datang ke pabrik-pabrik menjual tenaga kerjanya untuk ditukar dengan upah? Bukankah lewat kesepakatan kontrak muka ketemu muka pekerja secara sah akan dapat sejumlah tertentu uang untuk kerja selama batas waktu tertentu dengan imbalan sejumlah tertentu upah? Tak ada satupun hal yang bisa meyakinkan kita bahwa kontrak itu tidak sah secara hukum. Tidak pula secara moral karena tak ada pihak yang memaksa dengan menodongkan senjata ke kepala pekerja untuk bekerja kepada kapitalis. Kerja sukarela dan kontrak hukum sah merupakan salah satu aspek penting kapitalisme sebagai sistem. Jadi, pertanyaan bukan apakah kapitalisme itu sistem yang didasarkan pencurian atau tidak, tapi bagaimana bisa kapitalisme itu sistem yang secara historis bisa menghasilkan kekayaan, baik nilai maupun barang-barang, begitu melimpah sembari membuat jurang kekayaaan dan kemiskinan begitu lebarnya. Kalaupun perlu ada tinjauan moral terhadap kapitalisme, maka titik berangkatnya mestilah dari penjelasan historis yang memungkinkan bekerjanya sistem ini serta batas-batas kemustahilannya.

Menurut Marx letak penjelasan itu, pertama-tama, ada di dalam apa yang disebutnya eksploitasi kapitalistik. Marx tak pernah mengartikan ‘eksploitasi’ sebagai kategori moral. Meski demikian, persoalannya, baik penghujat maupun pecinta kapitalisme, sampai saat ini sudah kadung menyematkan baju moral ke proses yang justru Marx lihat netral secara moral itu. Pertama-tama, untuk adanya produksi perlu ada sarana, objek, dan tenaga kerja. Untuk menjadi kapitalis, seorang kapitalis harus belanja bahan baku, sarana produksi, dan tenaga kerja. Di pasar, kapitalis bertransaksi dengan kapitalis lain untuk mendapatkan bahan baku dan sarana produksi. Di pasar juga, kapitalis bertransaksi dengan pekerja untuk mendapatkan tenaga kerja. Setelah transaksi beres, semua faktor-faktor produksi itu dihimpun dan diorganisir ke dalam proses produksi untuk menghasilkan komoditas baru. Sebelum dan selama proses produksi kapitalistik, transaksi di antara pihak-pihak yang terlibat didasarkan pada nilai yang mereka miliki masing-masing. Transaksi antara satu kapitalis dengan kapitalis lain ialah transaksi jual beli yang netral secara moral, tanpa tipu-tipu. Dengan asumsi yang sama pula, maka transaksi jual-beli tenaga kerja antara pekerja dan kapitalis juga ialah transaksi yang netral secara moral. Ketika proses produksi berakhir dan kapitalis mendapatkan komoditas barunya, dia akan menjualnya ke pihak lain supaya nilai yang terkandung di dalamnya bisa diubah kembali menjadi nilai murninya: uang. Di sini pun, seperti di babak praproduksi, transaksinya adalah jual-beli dan jual beli itu netral secara moral. Intinya, eksploitasi kapitalistik itu berada di dalam konteks transaksi suka sama suka berbasis pertukaran nilai yang sama lewat jual-beli. Karena landasannya yang transaksional, maka satu-satunya cacat moral yang mungkin terjadi, entah di antara kapitalis maupun antara kapitalis dan pekerja, ialah penipuan. Tapi, kata Marx, kapitalisme tak akan bertahan lama kalau didasarkan pada penipuan.

Bagaimana dengan eksploitasi? Di dalam ajarannya Marx, eksploitasi kapitalistik juga netral secara moral. Eksploitasi itu sekadar proses penciptaan nilai baru yang lebih dari nilai yang telah kapitalis keluarkan di dalam proses produksi. Di akhir proses produksi, nilai yang lebih dari total nilai yang kapitalis belanjakan sebelum produksi inilah yang dituju oleh semua kapitalis. Dengan kata lain, eksploitasi hanyalah sepenggal proses di dalam proses lebih panjang produksi komoditas. Nah, karena pekerja masuk ke dalam produksi kapitalis melalui gerbang transaksi jual-beli yang netral secara moral, bukan lantaran paksaan atau hasutan atau karena tipu-tipu, maka tidak ada yang tidak adil ketika kapitalis makin kaya dan pekerja tetap lebih miskin dibanding kapitalis karena memang kapitalis makin kaya berkat nilai lebih di akhir proses produksi yang memang adalah haknya sebagaimana halnya upah pekerja adalah hak pekerja.

Kalau terpaksa ditimbang secara moral, kapitalisme sebetulnya jauh lebih baik ketimbang sistem perbudakan atau feodalisme sebelumnya. Di jaman nabi-nabi, misalnya, budak-budak ditangkap, diambil dari kampung halamannya atau dari medan perang, di bawa ke pasar dan dijual sebagai barang. Setelah dibeli, hidup-matinya ditentukan oleh pemiliknya. Mereka kerja siang malam hanya diberi makan minum secukupnya, tanpa bisa tawar-menawar, tanpa bisa memilih bekerja di ladang ataukah dapur, bersama kafilah dagang atau pengangkut barang. Sekali menjadi budak, bukan hanya mereka, tapi anak-anak mereka juga niscaya menjadi budak tanpa bisa memilih.

Buat Marx, persoalannya bukan apakah eksploitasi kapitalis itu jahat atau baik, tapi bagaimanakah proses ini memungkinkan kapitalis makin kaya dan pekerja tetap lebih miskin dibanding kapitalis. Eksploitasi kapitalis tak lebih dari proses penciptaan nilai lebih. Kalau uang yang kapitalis belanjakan untuk memulai proses produksi kita pilah-pilah, kita bisa bagi ke dua pilahan. Sepilahan ialah nilai total untuk belanja sarana produksi dan bahan baku, sepilahan lainnya ialah nilai total untuk membayar upah pekerja. Kalau di akhir proses produksi hanya dihasilkan total nilai yang sama dengan total nilai untuk belanja, maka mereka akan berhenti jadi kapitalis. Tujuan kapitalis ialah mendapatkan nilai baru yang melebihi nilai total yang sudah dibelanjakan. Dari manakah nilai ini berasal? Bagaimanakah nilai baru ini tercipta? Apakah dari nilai sarana produksi dan bahan baku? Tidak. Karena nilai sarana produksi dan bahan hanya teralihkan ke nilai produk baru yang dihasilkan. Kalau begitu dari nilai total upah yang telah dikeluarkan? Tidak juga, karena nilai tenaga kerja hanya teralihkan ke nilai produk baru juga seperti halnya nilai sarana produksi dan bahan baku. Lantas dari mana dan mengapa bisa begini? Di sinilah duduk perkara eksploitasi kapitalis meski ditemukan.

Sebelum kapitalis ‘membeli’ tenaga kerja lewat transaksi jual-beli, ada yang ganjil dari watak ‘barang dagangan’ yang dimiliki pekerja itu. Meski diperlakukan sama, tapi tidak seperti barang-barang dagangan lainnya, tenaga kerja bukan benda, ia ‘tidak ada’ (atau lebih pasnya ‘tidak hadir’) sebagai sesuatu. Tenaga kerja itu potensi yang maujud hanya di dalam suatu proses, yang hadir hanya ketika ia dicurahkan oleh pemiliknya, yakni pekerja. Tenaga kerja hanya ada di dalam tubuh hidup pekerja sebagai potensi, dan secara historis itulah satu-satunya barang jualan pekerja berhadap-hadapan dengan kapitalis di pasar. Karena sekadar potensi, dan potensi itu kualitatif, maka tenaga kerja bisa dicurahkan banyak sedikitnya nyaris sesuka hati. Sesuka hati siapa? Pekerja? Tentu tidak, tapi sesuka hati pihak yang telah membelinya. Seperti semua pembeli, kapitalis boleh sesuka hatinya menggunakan barang yang telah dibelinya. Ketika kapitalis sudah membeli tenaga kerja lewat transaksi jual-beli, maka adalah haknya, baik secara moral maupun secara hukum, untuk menggunakan tenaga kerjanya ini sesuka hatinya. Kalau kapitalis menghendaki pekerja mencurahkan tenaga kerja sampai curahan itu menghasilkan nilai yang setara dengan nilai yang sudah kapitalis bayarkan untuk membeli tenaga kerja, maka kapitalis tidak akan mendapatkan nilai tambahan karena nilai tenaga kerja hanya dialihkan dari pekerja ke nilai produk akhir. Karena tujuan kapitalis bukanlah untuk mempekerjakan si pekerja agar si pekerja bekerja, tapi mempekerjakan pekerja untuk mendapatkan nilai tambahan atau nilai yang lebih dari nilai belanja produksinya, maka mereka akan mewajibkan pekerja terus mencurahkan tenaga kerjanya setelah curahan tenaga kerja itu menghasilkan nilai yang setara dengan nilai tenaga kerja yang sudah dibayarkan. Kewajiban pekerja untuk terus bekerja sampai batas waktu tertentu juga adalah hak kapitalis yang sah secara moral maupun hukum sebagai pemilik tenaga kerja yang telah dijual kepadanya itu lewat transaksi jual-beli sukarela. Nilai yang dihasilkan oleh curahan tenaga kerja yang melampaui nilai tenaga kerja inilah yang disebut nilai-lebih. Inilah tujuan semua kapitalis, dan nilai ini mereka dapatkan dengan sah baik secara moral maupun hukum.

Sekali lagi, tak ada yang curang dalam eksploitasi kapitalis. Tak ada pula misteri dari ketimpangan yang dihasilkan oleh eksploitasi berbasis relasi produksi kapital dan kerja. Kapitalis berhak atas nilai lebih seperti halnya pekerja berhak atas upah. Lantas, kalau tak ada persoalan moral di dalam eksploitasi kapitalis, apa yang membuat Marx, orang yang menemukan adanya sistem eksploitasi kapitalis itu, dianggap sebagai pejuang atau malah perusak moral lantaran dia mengkritik sistem kapitalisme tempat eksploitasi macam itu ada?

Buat Marx, tak jadi soal apakah kapitalis membayarkan upah sebelum keringat pekerjanya mengering atau masih basah. Yang jadi soal baginya ialah bagaimana menjelaskan kok bisa sistem yang adil semacam ini memproduksi ketimpangan sosial begitu brutal. Dan itu bisa jadi ada di balik sistem upah kapitalis yang bagi sebagian dari kita sudah terang benderang, tapi buat Marx tidak seterang apa yang diterangkan Disnaker atau serikat buruh kepada pekerja.

Sanggahan Terhadap "Metode Ekonomi-Politik” Marx

Menurut saya kurang tepat dijadikan acuan karena di sana Marx menuliskannya lebih dalam kerangka membincangkan rancang-bangun enam buku awalnya. Teksnya sendiri disusun dengan urutan sebagai berikut;

1. Produksi secara umum, 
2. Relasi umum antara produksi, distribusi, pertukaran dan konsumsi,
3. Metode ekonomi-politik, dan
4. Kekuatan Produksi dan relasi-relasi produksi, relasi-relasi produksi dan relasi-relasi sirkulasi.

Marx memahami realitas ekonomi masyarakat sebagai suatu proses yang terdiri dari empat momen yang membentuk sebuah totalitas; momen produksi – distribusi – pertukaran (sirkulasi) – konsumsi. Dalam momen produksi, masyarakat menciptakan, mengapropriasi, dan membentuk hasil-hasil alam sesuai dengan hukum-hukum alam demi kebutuhan anggotanya—produksi menciptakan barang-barang alias objek ekonomi. Lalu dalam proses distribusi masyarakat menentukan proporsi pembagian hasil produksi sesuai hasil kerja anggotanya. Kemudian dalam pertukaran, individu menentukan bagian yang ia inginkan dalam batas-batas hasil distribusi yang telah ditentukan masyarakat. Dan terakhir, dalam konsumsi, hasil produksi sampai ke tangan individu sebagai objek pemuas kebutuhannya—hasil produksi menjadi milik individu.

Totalitas ekonomi ini membentuk hierarki dengan produksi sebagai pangkal, distribusi dan pertukaran adalah perantara, dan momen konsumsi merupakan titik akhirnya. Kendati sama-sama berperan sebagai perantara, distribusi dan pertukaran memiliki perbedaan sebab distribusi ditentukan oleh masyarakat, sedang pertukaran ditentukan oleh individu-individu. Dapat dikatakan realitas ekonomi membentuk suatu silogisme; produksi sebagai keumuman (generalitas), distribusi dan pertukaran sebagai partikularitas, dan konsumsi sebagai singularitas. Jadi sekali lagi, totalitas realitas ekonomi dipahami Marx sebagai suatu kesatuan dengan keragaman yang dimulai dari produksi dan diakhiri proses konsumsi. Dari mengingat pengertian ini baru kita bisa melangkah pada penalaran yang beraroma Hegelian berikut.

Relasi produksi dan konsumsi dapat dibagi ke dalam tiga relasi umum. Relasi pertama ialah identitas langsung (immediate identity), jadi dalam relasi ini produksi dimengerti sebagai konsumsi dan konsumsi sebagai sebuah produksi. Meski berlawanan, keduanya membentuk kesatuan. Dalam kegiatan produksi, manusia tidak hanya mengembangkan kemampuannya, melainkan juga, mencurahkan energinya; menghabiskan, mengonsumsi energi tertentu yang kemudian ia ubah ke dalam bentuk lain. Dalam memproduksi sebuah tulisan lewat sebuah komputer misalnya, seorang penulis di saat yang sama juga sedang mengonsumsi energi listrik, serta mengonsumsi nutrisi yang berasal dari makanan yang ia makan sehingga organ otaknya mampu menghasilkan pemikiran. Proses produksi tulisan, adalah juga suatu proses konsumsi tertentu. Dalam penalaran yang sama, aktivitas konsumsi adalah juga sebuah produksi langsung. Bentuknya oleh Marx dibedakan ke dalam dua jenis, yakni konsumsi subjektif dan konsumsi objektif. Konsumsi subjektif ialah konsumsi individual yang sekadar menghabiskan/mendestruksi objek produksi dengan memproduksi sesuatu yang baru secara alamiah. Sebagai contoh, dalam aktivitas mengonsumsi buah apel yang kaya akan vitamin C misalnya, kita sekadar menghabiskan buah apel tersebut, mengunyah-ngunyah, lalu menelannya. Namun dalam proses ini, secara alamiah—lewat metabolisme kimia tubuh—nutrisi yang telah diserap oleh tubuh akan memproduksi sel-sel kulit baru yang kemudian menghaluskan kulit. Konsumsi buah apel adalah juga produksi sel-sel kulit yang baru. Sedang konsumsi objektif ialah konsumsi yang selain menghabiskan/menegasi barang-barang dilakukan secara sadar oleh manusia untuk memproduksi barang-barang baru. Konsumsi ini dasarnya berwatak sosial dengan mengonsumsi barang-barang sebagai sarana-sarana produksi. Contohnya dapat kita lihat dalam konsumsi bahan-bahan mentah, sumber daya alam, atau mesin-mesin dalam produksi di pabrik. Ini yang biasa disebut sebagai konsumsi produktif atau reproduksi.

Relasi kedua, adalah relasi produksi – konsumsi sebagai perantara, sebagai sarana antar satu dan yang lain. Relasi ini berupa saling ketergantungan yang sifatnya (1) eksternal—produksi menciptakan landasan material, objek eksternal, bagi konsumsi—dan yang sifatnya (2) internal, konsumsi menciptakan kebutuhan sebagai tujuan, sebagai objek internal dalam produksi. Tanpa produksi kendaraan bermotor, para konsumen kendaraan bermotor akan kehilangan landasan material, kekurangan sarana, bagi keinginannya untuk mengendari kendaraan bermotor, kebut-kebutan, atau menikmati kemacetan. Artinya, produksi menciptakan sarana dan landasan material bagi konsumsi. Namun di sisi lain, produksi adalah juga sarana konsumsi. Tanpa konsumsi, produksi juga akan kehilangan subjeknya, kehilangan tujuannya—hasil produksi akan tetap ada, namun ia hanya akan menjadi produk potensial, bukan produk aktual. Produksi sebuah buku di populasi yang buta huruf, misalnya—produksi bahan bacaan di tengah tiadanya konsumen pembacanya, hanya akan menjadikan tumpukan kertas dengan tulisan tersebut sebagai sebuah buku dalam potensi; produk yang berpotensi sebagai buku. Tanpa populasi yang bisa membaca, tanpa konsumennya, buku tersebut paling-paling hanya akan jadi bahan bakar atau sebuah bantal.

Terakhir, relasi antara produksi dan konsumsi hadir dalam bentuk relasi saling melengkapi dan relasi saling membentuk, menciptakan, menegaskan, baik lawannya maupun dirinya sendiri. Produksi (1) melengkapi konsumsi dengan cara menciptakan objek material bagi konsumsi; tanpa produksi bir secara materiil tidak akan ada peminum bir, penyuka bir, penggila bir—tidak akan ada konsumen bir nya. Lalu (2) produksi juga membentuk kekhasan, membentuk karakter, kespesifikan, bagaimana produk dikonsumsi dan dengan demikian menciptakan konsumennya; produksi sebuah rekaman musik dalam bentuk yang berbeda antara vinyl dan mp3 misalnya, memberi karakter, kekhasan, soal bagaimana produk itu dikonsumsi dan akhirnya pada cara bagaimana rekaman musik dikonsumsi beserta konsumennya. Jadi produksi bukan hanya menciptakan objek konsumsi, tetapi juga menciptakan subjek nya. Terakhir, (3) produksi bukan hanya menciptakan material bagi konsumsi, tetapi juga menciptakan kebutuhan akan material. Produksi atas sebuah Smartphone misal, bukan hanya menciptakan Smartphone itu sendiri, tetapi juga menciptakan kebutuhan akan konsumsi sarungnya, charger-nya, power bank-nya, dan pulsa-nya, agar Smartphone itu sendiri berfungsi sebagaimana adanya. Hal yang sama terjadi juga dalam aktivitas konsumsi. Konsumsi melengkapi produksi dengan cara menghabiskan produk yang diciptakan dari proses produksi, konsumsi juga menciptakan kebutuhan bagi produksi yang baru, menciptakan penyebab yang mendorong produksi karena tidak ada produksi tanpa kebutuhan. Konsumsi mereproduksi kebutuhan. Relasi saling melengkapi dan saling menciptakan diri antara produksi dan konsumsi ini yang dalam ekonomi modern kerap dipersepsi sebagai hubungan pemintaan dan penawaran, yakni relasi antara kebutuhan alamiah dan kebutuhan yang diciptakan secara sosial.

Menyadari ketiga relasi produksi – konsumsi ini menurut saya sedikit banyak akan membantu menjawab pertanyaan mengapa Marx memulai Kapital dengan komoditas, sebuah objek konsumsi. Dalam relasinya sebagai identitas langsung, sebagai sarana pemenuhan kebutuhan manusia, komoditas—“entah sebagai objek konsumsi atau sebagai sarana produksi”, adalah bagian intrinsik dari produksi itu sendiri; sebagai perantara dari konsumsi, produksi menciptakan material, menciptakan objek eksternal bagi konsumsi; dan terakhir, produksi menciptakan kekhasan, kespesifikan, dari konsumsi. Dari ketiga relasi ini dalam kaitannya dengan cara produksi kapitalis (objek penelitian Marx) maka kita akan mendapatkan komoditas, yakni suatu objek eksternal yang menjadi landasan materiil sekaligus sarana pemenuhan kebutuhan manusia yang khas berlaku umum dalam masyarakat kapitalis.

Dengan berangkat dari komoditas, Marx berupaya menangkap kespesifikan masyarakat kapitalis. Hal ini jadi benar karena walaupun telah hadir jauh sebelum cara produksi kapitalis, komoditas adalah bentuk umum produk kerja kapitalis. Sarana produksi kapitalisme yang paling penting, tenaga-kerja, kerja-upahan, juga hadir dalam bentuk komoditas. Komoditas dijadikan titik berangkat oleh Marx bukan untuk berhenti di dalam komoditas itu sendiri, melainkan karena ia menyadari sebagai sebuah produk khas kapitalisme, komoditas adalah kunci menuju jantung produksi kapitalis. Di balik penalaran soal kesalinghubungan antara produksi – konsumsi ini, menurut saya tersimpan pula upaya Marx untuk mendemokratisasikan pengetahuan dengan cara menghindari penalaran metafisik di awal karyanya. Sebagai benda biasa, komoditas menyediakan sarana penjelasan yang mampu diakses semua orang yang hidup di dalam masyarakat kapitalis; entah laki-laki atau perempuan, tua atau muda, islam atau hindu, di Indonesia atau Jamaika, Marxis atau anti-Marxis, pekerja atau borjuasi, semuanya hanya dengan panca indera mampu mengenal komoditas secara langsung. Adakah satu diantara kita yang saat ini tidak sedang merasakan komoditas? Tidak seperti Smith yang memulai dengan analisis kelas, atau Ricardo yang memulai dengan konsep nilai, Marx berupaya menyajikan karyanya dengan memulai dari hal yang amat dekat dengan kita yang hidup di dalam masyarakat kapitalis—De te fabula narratur; kisah komoditas adalah kisah tentang dirimu.

Filsafat dan Ilmu Manajemen Bisnis

"Konsep filsafat manajemen bisnis terkait dengan perkembangan ilmu manajemen"


Perkembangan dunia sekarang ini mendorong beragam refleksi ilmiah, termasuk filsafat dan manajemen, untuk terlibat dengan beragam persoalan dunia. Kita hidup di dunia yang saling terkait satu sama lain. Ekonomi tidak bisa dipisahkan dengan kebudayaan, politik, seni dan budaya sebuah masyarakat. Perubahan pada satu bagian masyarakat akan mempengaruhi bagian-bagian lainnya. Inilah yang disebut sebagai interdependensi, yakni kesalingterkaitan dari segala sesuatu yang ada di alam semesta. Fakta ini juga mempengaruhi tingkat persaingan global antara berbagai negara dan berbagai perusahaan di bidang ekonomi. Untuk bisa bertahan dan berkembang di era persaingan global semacam ini, kita membutuhkan cara berpikir dan penerapan tindakan yang tepat. Di titik inilah filsafat manajemen bisnis memainkan peranan penting.

Persaingan global juga mengubah fokus dari ilmu manajemen menjadi peningkatan efisiensi dan efektivitas kinerja perusahaan. Ini dianggap sebagai cara terbaik untuk bertahan dan mengembangkan perusahaan di era persaingan global sekarang ini. Di dalam wacana ilmu manajemen, ini disebut juga sebagai manajemen kualitas menyeluruh, atau Total Quality Management. Wacana ini menjadi paradigma dominan di dalam ilmu manajemen sekarang ini. Bagian penting dari wacana ini adalah pembangunan tata nilai di dalam perusahaan yang berjalan berbarengan dengan efektivitas dan efisiensi kinerja perusahaan. Dengan kata lain, manajemen kualitas menyeluruh melibatkan tiga hal sekaligus, yakni efisiensi, efektivitas dan panduan nilai yang jelas di dalam segala bentuk aktivitas manajemen. Dalam konteks ini, dua hal amat penting untuk diperhatikan, yakni peningkatan kreativitas di dalam perusahaan untuk melahirkan beragam penemuan baru yang bermakna, dan penguasaan jaringan informasi serta teknologi yang memadai. Semua ini melibatkan sebuah cara berpikir yang kritis dan menyeluruh yang hanya bisa ditawarkan oleh filsafat.

Berbagai kemampuan ini dibutuhkan, karena perekonomian dunia terus berkembang. Seluruh dunia kini terlibat dalam perdagangan dengan intensitas yang luar biasa tinggi. Barang, jasa dan uang dipertukarkan dalam jumlah raksasa setiap detiknya di berbagai belahan dunia. Anak muda di kamarnya bisa dengan mudah membeli barang yang dijual dari daerah lain di belahan dunia lainnya. Tingkat produksi dan konsumsi global mencapai angka tertinggi sepanjang sejarah manusia. Semua perkembangan ini membawa sebuah kesadaran baru, bahwa dunia kita ini terbatas. Sumber daya yang terkandung di dunia ini, yang menjadi bahan dasar untuk produksi dan konsumsi, juga terbatas. Wacana di dalam ilmu manajemen kini mulai membicarakan tanggung jawab ekologi, yakni tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan hidup secara keseluruhan. Wacana ini amat penting, terutama karena begitu banyak perusahaan yang mengeruk sumber daya alam dan membuang limbah sembarangan, tanpa memperhatikan kelestarian alam secara keseluruhan.

Banyak pakar manajemen yang kini menempatkan tanggung jawab sosial sebagai inti utama dari bisnis. Dorongan mencari untung tidak boleh melebihi tanggung jawab sosial yang selalu lahir dari setiap praktek bisnis. Beberapa contoh konkret dari hal ini adalah kesetaraan gender di dalam dunia kerja, pembatasan bonus dan upah untuk para pimpinan perusahaan, transaksi yang melibatkan nilai-nilai moral yang jelas serta kepedulian pada kelestarian ekosistem secara keseluruhan. Hal-hal ini kini meresapi seluruh penelitian ilmu manajemen. Kegagalan perusahaan untuk melibatkan diri secara aktif di dalam perwujudan hal-hal di atas dianggap secara langsung sebagai kesalahan pihak manajemen perusahaan. Ketika perusahaan dan praktek bisnis secara keseluruhan memperhatikan hal ini, maka ini akan mempengaruhi terciptanya budaya perusahaan yang baik untuk semua pihak. Budaya perusahaan ini akan meningkatkan kinerja perusahaan dalam kaitan dengan tanggung jawab sosial terhadap masyarakat secara luas.

Arti penting dari hadirnya budaya perusahaan ini semakin jelas, karena kita hidup di dalam masyarakat yang semakin rumit dan dinamis. Tata nilai mengalami perubahan begitu cepat, akibat perubahan masyarakat yang juga amat cepat. Apa yang baik dan buruk tidak lagi sejelas di masa lalu. Berbagai arahan nilai memberikan petunjuk dan pertimbangan di antara berbagai keadaan yang ada. Ini tentu menciptakan kebingungan dan ketidakpastian yang besar. Beban keputusan dan tanggung jawab yang harus dibuat pun juga semakin besar. Pada beberapa kasus, ini menciptakan beban yang berlebihan bagi para pimpinan bisnis. Mereka tidak mampu lagi mempertimbangkan semua hal yang ada di dalam membuat keputusan. Akibatnya, kinerja mereka dan organisasi yang mereka pimpin pun menurun. Pada titik ini jelas dibutuhkan suatu cara berpikir baru yang berfokus pada jalan keluar yang menyeluruh. Cara berpikir baru ini tidak hanya harus mempertimbangkan aspek-aspek langsung yang terkait dengan bisnis, tetapi juga aspek-aspek lainnya di luar bisnis itu sendiri, seperti persoalan-persoalan politik dan ekonomi yang ada di dalam masyarakat luas.

Cara berpikir yang menyeluruh ini juga menjadi dasar dari sosok manajer di abad 21 ini. Ia tidak hanya merupakan figur otoritas, tetapi juga harus memberikan pendasaran yang masuk akal bagi otoritasnya tersebut. Dalam konteks ini, ia sekaligus adalah figur dan teman bagi orang-orang yang dipimpinnya. Ia menyediakan arah bagi organisasi yang dipimpinnya dengan menetapkan target pencapaian kerja, memimpin rapat dan koordinasi, berhubungan dengan media massa, berhubungan dengan pemerintah, menjadi perantara di antara berbagai bagian organisasi, meredakan konflik dan sebagainya. Ia menekankan, apa yang menjadi fokus utama dan pendamping di dalam organisasinya. Kepercayaan menjadi kata kunci disini. Segala yang dilakukan seorang manajer akan menjadi percuma, jika ia tidak mendapatkan kepercayaan dari orang-orang yang ia pimpin. Kepercayaan ini bisa lahir, karena sang manajer menepati janjinya kepada orang-orang yang dipimpinnya, dan juga karena ia mampu melihat keadaan organisasi dari apa yang disebut sebagai metaperspektif, yakni melihat segalanya dari kaca mata yang lebih luas. Metaperspektif ini berakar pada kesadaran, bahwa tidak ada yang pasti di dalam hidup. Ada beragam kemungkinan yang bisa timbul dari beragam keadaan. Untuk bisa membuat keputusan yang tepat di tengah keadaan yang tidak pasti ini, seorang manajer membutuhkan kebijaksanaan. Kebijaksanaan ini adalah kemampuan untuk melihat apa yang ada di balik dari berbagai gejala yang tampak di depan mata. Dengan kata lain, ia bisa melihat akar dari semua keadaan yang terjadi. Kemampuan berpikir kritis dan analitis yang dikembangkan filsafat jelas amat berguna disini.

Dengan mempertimbangkan hal ini, maka filsafat manajemen bisnis jelas merupakan aspek yang amat penting di dalam ilmu manajemen. Filsafat manajemen bisnis tidak hanya membicarakan proses-proses manajerial, seperti kecenderungan di dalam ilmu manajemen, tetapi juga cara berpikir dan pandangan dunia yang mendorong orang untuk bertindak dan berperilaku tertentu di dalam konteks bisnis. Filsafat manajemen bisnis juga membuka ruang besar untuk melihat kaitan antara dunia bisnis dengan bidang-bidang lainnya di kehidupan manusia secara kritis dan mendasar. Filsafat manajemen bisnis juga dapat dilihat sebagai kajian lintas ilmu yang tidak hanya mencoba memahami praktek-praktek bisnis yang telah terjadi, tetapi juga menawarkan arah bagi perkembangan bisnis di kemudian hari dalam kaitan dengan kehidupan manusia secara keseluruhan. Filsafat manajemen bisnis, menurut Fall Hecker, adalah puncak perkembangan dari ilmu manajemen yang telah terjadi sejak 1960-an lalu di Eropa dan Amerika Serikat. Bagan dari Hecker in kiranya bisa membantu.

Filsafat manajemen bisnis adalah sebuah kajian yang bersifat reflektif, kritis, rasional dan sistematis tentang cara berpikir serta nilai-nilai yang mendasari tata kelola sebuah perusahaan ataupun organisasi bisnis lainnya. Filsafat manajemen bisnis bergerak di dua tingkat, yakni mengamati apa yang terjadi di dalam beragam praktek manajemen bisnis sekarang ini (deskriptif-faktual) dan memberikan arah untuk pengembangan tata kelola tersebut berdasarkan pada kesadaran yang bersifat menyeluruh (normatif-prinsipiil). Dalam konteks ini, yang amat ditekankan adalah pengaruh cara berpikir manusia yang bermuara pada lahirnya tindakan dan kebiasaan di dalam tata kelola perusahaan bisnis. Karena juga banyak berbicara soal pikiran dan cara berpikir manusia, filsafat manajemen bisnis juga perlu belajar dari perkembangan terbaru di dalam penelitian otak dan neurosains. Sikap kritis dan reflektif menjadi bagian utama di dalam penelitian-penelitian filsafat manajemen bisnis.

Manusia dan Filsafat, Dalam Majemen Bisnis

Hasil gambar untuk Manusia dan Filsafat, Dalam Manajemen Bisnis

Immanuel Kant, filsuf Jerman, pernah menyatakan, bahwa ada tiga pertanyaan mendasar di dalam filsafat dalam kaitan dengan hidup manusia. Yang pertama adalah, apa yang dapat kita ketahui? Kedua, apa yang harus kita lakukan? Dan ketiga, apa yang boleh kita harapkan? Pertanyaan pertama terkait dengan pengetahuan manusia. Apa yang kita ketahui mempengaruhi cara hidup dan cara bertindak kita di dalam menyingkapi sesuatu. Praktek manajemen bisnis dan filsafat jelas tidak pernah bisa dipisahkan dari hidup manusia. Pengetahuan kita juga membentuk dunia kita.

Pertanyaan kedua terkait dengan tindakan manusia dan prinsip-prinsip yang sebaiknya menjadi dasar dari tindakannya. Ini juga terkait dengan sikap kita kepada orang lain. Pertanyaan ketiga terkait dengan pemahaman manusia soal keindahan yang terdapat di alam dan seni hasil karya manusia. Filsafat, menurut Kant, hendak memberikan jawaban yang kritis, rasional dan sistematis terhadap ketiga pertanyaan tersebut dengan sepenuhnya menggunakan akal budi manusia. Filsafat tidak mengacu pada agama atau aliran kepercayaan apapun.

Tujuan dasar filsafat adalah memberi arah bagi hidup manusia, yakni arah menuju kebijaksanaan yang kritis, rasional dan sistematis. Dalam arti ini, tujuan utama filsafat adalah mengembangkan hidup manusia semaksimal mungkin sesuai dengan kemungkinan yang ia miliki. Filsafat manajemen bisnis juga dapat dilihat dalam arti ini, yakni sebagai upaya untuk mengembangkan bisnis di dalam perusahaan semaksimal mungkin, sesuai dengan potensi yang ia punya. Di titik ini, filsafat manajemen bisnis adalah bagian yang amat penting di dalam kepemimpinan sebuah perusahaan. Fokus kajian dari filsafat manajemen bisnis adalah hidup manusia sebagai individual dalam kaitannya tindakannya di dalam konteks perusahaan.

Oleh karena itu, beragam pertimbangan etis, sosial, budaya, religius dan biologis yang mendasari hidup manusia juga patut menjadi perhatian. Beragam aspek di dalam diri manusia ini juga menjadi tema dasar dari filsafat manajemen bisnis. Manusia memang adalah mahluk ekonomi. Namun, itu hanya satu bagian dari beragam dimensi manusia lainnya. Semuanya salilng bertaut erat, tanpa bisa dipisahkan satu sama lain.

Setiap pimpinan bisnis pasti harus berurusan dengan manusia-manusia yang memiliki beragam dimensi ini. Setiap pegawai, pelanggan ataupun partner perusahaan lainnya pasti memiliki beragam dimensi ini yang mempengaruhi perilakunya sehari-hari, terutama di dalam soal pembuatan keputusan. Manusia memang mahluk yang unik. Mereka memiliki satu kemampuan yang amat unik, yakni kesadaran diri.Mereka sadar, bahwa mereka sadar. Mereka tidak hanya hidup, tetapi juga memikirkan kehidupan. Mereka tidak hanya bekerja, tetapi berpikir soal penyebab sekaligus dampak dari pekerjaannya. Mereka memikirkan hampir semua hal. Mereka bertanya tentang alasan keberadaan mereka, atau tujuan hidup mereka. Tentu saja, semua ini menarik untuk tema penelitian ilmiah maupun filosofis. Namun, semua ini bisa menimbulkan kerasahan mendasar di dalam hidup manusia yang berujung pada beragam penyakit, baik fisik maupun psikologis, jika dibiarkan tanpa kendali.

Keberadaan manusia di dunia ini juga kerap menjadi obyek pemikiran. Manusia bertanya tentang hubungannya dengan mahluk hidup lainnya, dan juga dengan alam. Mereka juga kerap melihat dirinya sebagai pusat dari alam. Segala hal yang ada bertujuan untuk menopang kehidupannya. Mereka melihat dirinya juga sebagai tujuan pada dirinya sendiri. Mereka tidak merasa sekedar sebagai benda, melainkan sebagai seorang pribadi yang luhur pada dirinya sendiri. Setiap pribadi adalah berharga, unik dan tidak dapat ditukarkan dengan yang lain. Setiap manusia juga membutuhkan manusia lainnya. Mereka saling mendukung untuk mengobati rasa kesepian yang ada, dan untuk keperluan bertahan hidup. Dalam kebersamaan tersebut, mereka membentuk keluarga, masyarakat dan negara.Dalam kebersamaan itu, mereka berkembang sebagai sebuah spesies, dan membangun peradaban. Di dalam sela-sela kehidupan itu, selalu ada tegangan antara “aku” dan “kamu”, antara “aku” dan kami, dan beragam kategori-kategori buatan manusia lainnya.

Ketika “aku” terlalu menjadi fokus, maka orang menjadi egois. Ketika “kita” terlalu ditekankan, maka orang akan jatuh ke dalam kolektivisme. Kepentingan pribadi selalu dikorbankan demi kepentingan orang banyak. Di antara dua dimensi ini, ada dimensi ketiga lainnya yang amat menentukan hidup manusia, yakni kerinduan untuk mencapai yang lebih dari apa yang sudah dimilikinya sekarang ini. Manusia selalu terdorong untnuk mencari apa yang lebih dalam, lebih luas, dan lebih besar dari keadaannya sekarang ini. Ia mencari makna dan tujuan yang lebih dari apa yang sudah dimilikinya sekarang ini. Kerinduan ini menciptakan kecemasan dan tegangan besar di dalam diri manusia, jika ia tidak mampu mengaturnya. Di sisi lain, kerinduan ini juga merupakan tanda, bahwa hidup manusia selalu ada dalam proses. Hidupnya adalah proyek yang tidak pernah selesai. Hal ini membuka banyak kemungkinan untuk berbagai bentuk perubahan.

Kita bisa mengenal beragam perubahan yang terjadi ini, karena kita hidup dalam ruang dan waktu. Perubahan mungkin, karena adanya ruang dan waktu. Para filsuf dan ilmuwan telah lama berdiskusi tentang hakekat dari ruang dan waktu. Pertanyaan mendasarnya adalah, apakah ruang dan waktu itu sungguh ada sebagai sesuatu yang tetap di luar diri manusia, atau lebih merupakan konsep hasil dari ciptaan pikiran manusia? Jika diamati secara jeli, waktu dan ruang lebih merupakan hasil dari pikiran kita. Waktu yang biasa kita pahami, yakni sebagai masa lalu, masa kini dan masa depan, juga sebenarnya tidak ada. Masa lalu merupakan ingatan. Masa depan merupakan harapan. Masa kini segera berlalu, ketika kita menyebutnya sebagai masa kini. Ketiganya tidak ada sebagai kenyataan yang tetap, tetapi lebih sebagai bagian dari kesadaran manusia. Dalam arti ini, ada hal ketiga yang perlu dipertimbangkan, yakni kesadaran manusia. Ruang dan waktu ada sejauh itu terkait dengan kesadaran manusia. Dengan pemahaman ini, orang lalu bisa menata hidupnya sedemikian rupa, tanpa dijajah oleh ruang dan waktu yang merupakan ciptaan dari kesadarannya. Ini, pada hemat saya, merupakan hal penting di dalam kepemimpinan.

Dengan memahami ruang dan waktu dalam kaitan dengan kesadaran, manusia membuka ruang untuk kebebasannya. Kebebasan ini nantinya juga menjadi dasar bagi sikap kepemimpinan yang tepat, guna menyingkapi berbagai keadaan yang terjadi. Ia menciptakan kemungkinan-kemungkinan baru yang tidak melulu ditentukan oleh ruang dan waktu yang ada di sekitarnya. Pemahaman ini juga telah melahirkan pemahaman modern tentang dunia, bahwa manusia adalah subyek yang berhadapan dengan dunia sebagai obyek. Kita tidak melihat diri kita sebagai bagian dari dunia, tetapi sebagai sesuatu yang terpisah dan berjarak darinya. Pemahaman ini berakar begitu dalam di cara berpikir modern. Hasilnya adalah ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengabdi pada kepentingan manusia, tetapi merusak kehidupan alam dan mahluk hidup lainnya.Namun, cara pandang ini kini telah banyak ditantang. Seluruh insting di dalam diri kita sebagai manusia menyatakan, bahwa kita adalah bagian dari dunia, dan dunia adalah bagian dari kita. Keterpisahan hanyalah ilusi yang dihasilkan oleh kesalahan berpikir. Beragam tradisi agama, seni dan filsafat dari berbagai penjuru dunia telah berulang kali menyatakan hal ini. Kesadaran akan keterkaitan dari segala sesuatu di alam semesta ini juga menjadi bagian penting di dalam praktek manajerial dan kepemimpinan.

Politik, Bisnis dan Spiritualitas

Hasil gambar untuk Politik, Bisnis dan Spiritualitas

Ketiga kata ini, yakni politik, bisnis dan spiritualitas, hampir tak pernah dihubungkan. Ketiganya menempati dunia yang berbeda. Politik dan bisnis memang cukup sering disandingkan. Namun, kata spiritualitas amatlah asing bagi kedua dunia tersebut.

Politik dan Bisnis

Politik kerap dipahami sebagai perebutan kekuasaan. Politik disempitkan ke dalam pengertian yang dirumuskan oleh Thomas Hobbes di dalam bukunya Leviathan, yakni perang semua melawan semua (bellum omnia contra omnes). Di dalam politik, manusia adalah serigala bagi sesamanya (homo homini lupus). Kepentingan dan bahkan nyawa orang lain dikorbankan, demi mempertahankan dan memperbesar kekuasaan politik.

Tak heran, jika politik dipahami dengan cara seperti ini, krisis politik pun terus terjadi. Kebencian dan prasangka menjadi udara yang dihirup bersama. Fitnah dan kedangkalan berpikir menjadi warna kehidupan sehari-hari. Buahnya adalah sistem politik yang dipenuhi dengan korupsi, kolusi dan nepotisme, seperti kita lihat di banyak negara sekarang ini.

Bisnis pun juga dianggap sebagai sesuatu yang jauh dari spiritualitas. Bisnis dipahami secara sempit sebagai upaya untuk menghasilkan keuntungan sebesar mungkin dengan pengeluaran sekecil mungkin. Berbagai cara ditempuh untuk mencapai hal ini, bahkan dengan merugikan orang lain dan melanggar hukum yang berlaku. Di dalam upaya memperkaya diri secara tidak sehat, para pelaku bisnis seringkali bekerja sama dengan politisi dan militer.

Bisnis semacam ini juga akan terus terjatuh ke dalam krisis. Kesenjangan sosial antara si pemilik modal dan si pekerja juga akan semakin besar. Beragam masalah pun muncul, sebagai akibat dari kesenjangan sosial tersebut, mulai dari kriminalitas sampai dengan konflik berdarah. Tidak hanya itu, banyak juga lingkungan alami, seperti hutan tropis, yang rusak, akibat sepak terjang para pebisnis rakus.

Salah Paham Spiritualitas

Berbicara tentang spiritualitas pun tak lepas dari salah paham. Orang mengira, spiritualitas adalah soal agama. Mereka mengira, dengan melakukan ritual dan melaksanakan aturan agama secara buta, mereka menjadi manusia spiritual. Anggapan ini salah.

Agama adalah institusi sosial yang diciptakan manusia. Di dalamnya, ada hubungan kekuasaan yang menentukan isi sekaligus kebijakan agama tersebut. Di abad 21 ini, banyak agama terjatuh ke dalam formalisme. Ia hanya mementingkan tampilan luar, seperti melaksanakan ritual dan aturan, namun melupakan pesan luhur utama dari agama tersebut.

Ketika agama terjebak ke dalam formalisme, ia dengan mudah digunakan sebagai alat politik. Ia juga dengan mudah digunakan sebagai pembenaran untuk kebodohan, kebencian dan kemalasan berpikir. Jika ini terjadi, agama justru kehilangan keluhurannya. Ia justru menjadi sumber intoleransi dan kekerasan yang menghambat kemajuan masyarakat.

Memahami Spiritualitas

Semua ini bisa dihindari, jika politik, bisnis dan agama dihubungkan kembali dengan spiritualitas. Semua upaya politik, seperti pembuatan kebijakan dan pendidikan politik masyarakat, akan percuma, jika tidak ada spiritualitas di dalamnya. Ini seperti membangun gedung tinggi dengan fondasi yang amat lemah. Ia akan runtuh, ketika goncangan terjadi.

Namun, apa itu spiritualitas? Spiritualitas adalah sebuah sudut pandang yang melahirkan cara hidup tertentu, dimana kebutuhan tubuh dilihat hanya sebagai satu bagian dari keseluruhan hidup itu sendiri. Pendek kata, hidup itu lebih luas dari sekedar makan, pergi jalan-jalan, tampil sok religius di depan umum, membeli pakaian bagus, rumah bagus dan kendaraan mewah. Jika ini tak dipahami, orang akan terjebak pada hidup yang sia-sia dan penuh derita.

Spiritualitas juga menyibak fakta dengan jati diri asali manusia. Tubuh akan tumbuh, sakit, menua dan kemudian mati. Namun, ada sesuatu yang abadi di dalam diri manusia. Ia tak pernah diciptakan, dan tak akan pernah hancur. Sesuatu itu adalah energi semesta, atau energi kehidupan, yang melahirkan segala sesuatu. Dalam arti ini, manusia adalah satu dan sama dengan seluruh alam semesta.

Hidup dengan spiritualitas berarti menyadari betul hal ini. Hidup pun lalu dilihat dari sudut pandang kesatuan dengan semesta ini. Tidak ada yang disebut “orang lain” atau “mahluk lain”, karena pada tingkat paling dalam, kita semua adalah sama. Tidak ada pula yang disebut sebagai “diri” dengan segala ambisi, ketakutan dan kerumitan emosionalnya. Dari sudut pandang ini, hidup adalah keutuhan, kedamaian dan kejernihan dari saat ke saat.

Hidup tanpa spiritualitas adalah hidup yang penuh dengan ketakutan. Orang melihat dirinya sendiri sebagai sesuatu yang kecil dan rapuh. Namun, ini semua kesalahpahaman yang lahir dari pola didik dan pola pikir yang salah. Ketika spiritualitas sungguh didalami dan menjadi bagian dari kehidupan, ketakutan akan sirna dalam sekejap mata.

Politik, Bisnis dan Spiritualitas

Lalu bagaimana dengan karir? Bagaimana dengan uang? Bagaimana dengan nama baik? Bagaimana dengan kesuksesan?

Hidup yang spiritual jauh dari kerakusan. Semua hal di atas dicari dan digunakan seperlunya saja. Ketika orang memasuki pintu spiritualitas, ketertarikannya pada kekuasaan dan kenikmatan hidup pun akan secara alami menurun. Mereka sadar, bahwa semua itu sementara, dan akan menciptakan banyak masalah, jika dikejar secara buta. Orang pun akan memilih jalan hidup yang bisa memberikan nilai kedamaian dan kebijaksanaan tertinggi bagi dirinya dan orang lain.

Politisi yang spiritual akan mencari kekuasaan seperlunya, guna menciptakan kebaikan bersama. Pelaku bisnis yang spiritual akan mencari keuntungan seperlunya, guna membangun organisasi yang baik dengan pekerja yang hidup sejahtera dan bermartabat. Agama yang spiritual akan membawa kedamaian, baik di dalam diri maupun dalam hubungan dengan orang lain. Jelaslah, bahwa spiritualitas harus kembali ditanamkan di dalam bisnis, politik dan agama.

LANGKAH MENINGKATKAN PENGUNJUNG BLOG



Langkah Meningkatkan Pengunjung Blog


1) BUAT LINK NAVIGASI

Hasil gambar untuk LINK NAVIGASI
Pikirkan untuk membuat lalu lintas pengunjung web/blog Anda, Semakin pendek langkah navigasi link ke halaman semakin cepat pula pengunjung menemukan artikel lainnya, navigasi yang baik menyelaraskan semua konten yang teratur sesuai label dan kategori.

2) BUAT SALINAN DESKRIPSI

Hasil gambar untuk SALINAN DESKRIPSI blog
Pengunjung menemukan halaman Anda di mesin pencari google dan akan melihat hasil dengan judul dan deskripsi keterangan artikel ada dibawah judul tadi, yang berfungsi sebagai garis besar isi halaman bersangkutan, silahkan buat keterangan sejelas-jelasnya pada menu deskripsi penelusuran saat membuat artikel yang terletak di sebelah kanan ketika membuat postingan.

3) MENJAWAB KOMENTAR

Hasil gambar untuk menjawab komentar blog blog
Menjawab pertanyaan pengunjung, agar mereka dihargai sudah meluangkan waktu untuk web/blog anda dan segala ketidaktahuannya, balas komentar yang ditanyakan sesuai isi konten.

4) BLOG TERDAFTAR DI SEARCH ENGINE DAN DIREKTORI

Hasil gambar untuk SEARCH ENGINE DAN DIREKTORI
Mulailah Anda mengoptimalakan layanan milik google seperti Google Plus, Webmastertolls google dan juga webmaster milik microsoft yakni Webmaster Yahoo/bing, jadi intinya anda harus memberikan informasi halaman baru anda ke webmaster agar semua URL halaman diindex. Mengaitkan link ke Google Plus sehingga konten anda cepat ditemukan oleh pembaca yang mengikuti profil anda.

5) BUAT TESTIMONI

Hasil gambar untuk testimoni

Ulasan yang padat dan di share untuk menarik pengunjung dari sebuah konten anda dengan menyumbit ke forum-forum yang di ikuti sesuai niche blog sehingga tertarik dengan isi konten Anda.

6) MEMILIKI LINK AKTIF DI SOSIAL MEDIA

Hasil gambar untuk link sosmed
Cara ini hampir seperti poin nomor 5 untuk menambah jumlah pengunjung anda bisa mengaitkan link aktif di situs sosial media dan pertumbuhan sosial media saat ini semakin banyak dan buatlah group Anda sebagai pengelolalnya.

7) MOBILE FRIENDLY

Hasil gambar untuk MOBILE FRIENDLY
Penggunaan mobile tumbuh secara dramatis sangat tinggi sekali, sekarang situs Anda harus suport ramah di browser mobile, kebanyakan pengujung dari negara Indonesia menggunakan perangkat mobile dan jauh berbeda dengan negara lain contohnya di Jerman untuk mengakses atau mencari topik kebanyakan menggunakan Laptop atau komputer jadi konten dihargai disana, dan situs mobile friendly ini dianjurkan oleh google dengan di rilisnya algoritma mobilegeddon.

8) SINKRONKAN KE GOOGLE ANALYTICS

Hasil gambar untuk GOOGLE ANALYTICS
Sementara SEO BLOG belum masksimal, hal pertama ke webmaster tools dan lalu daftarkan ke Google Analytics dan periksa lalulintas ke setiap halaman anda. cek semua permintaan keyword pencarian di mesin pencari sehingga menjadi rujukan mengedit isi konten halaman blog anda tepat ke URL anda bila ada permintaan yang sama.

9) WEBMASTER TOLLS

Hasil gambar untuk WEBMASTER TOOLS
Banyak yang tidak menyadari tools sebesar seperti Google menyediakan layanan Google Webmaster Tools . Pastikan bahwa URL blog anda di verifikasikan atau didaftarakan, Webmaster tolls ini bertujuan untuk memungkinkan mesin pencari untuk memberikan informasi rinci tentang bagaimana webmaster mesin robot melihat isi konten dalam situs anda seperti di bawah ini :

Memberikan informasi seperti:
Apakah Google merayapi situs Anda?
Apa link internal sedang bekerja?
Apa link eksternal yang menunjuk situs Anda?

10) MEMBUAT SITEMAP XML

Hasil gambar untuk SITEMAP XML
Salah satu tindakan yang paling sederhana webmaster dapat mengambil semua halaman web anda format XML untuk sitemap blog, mendaftarkan semua URL di websiite dan mengirimkan URL ke Google Webmaster Tools memastikan bahwa semua URL terbaca pada link yang aktif untuk diindex.

Catatan:

Gunakan alat yang ada di webmaster untuk membuat sitemap XML
Submit peta situs / sitemap ke Google Webmaster Tools
Hasil gambar untuk Submit peta situs / sitemap ke Google Webmaster Tools

11) BLOG TERLINK ANTAR BLOG LAIN

Hasil gambar untuk BLOG TERLINK ANTAR BLOG
Cara ini disebut juga tukar link atau menyisipkan link aktif saat berkomentar, saat berkomentar dan untuk meletakan link aktif di blog bersangkutan harus ada persetujuan pemilik blog apabila disetujui pengunjung akan datang ke blog anda perantara link tadi di sebut juga backlink.

12) MAKSIMALKAN AKUN SOSIAL MEDIA

Hasil gambar untuk sosmed
Share artikel baru di situs sosial media seperti Facebook, Twitter, LinkedIn, Globalshare dan masih banyak yang lainnya, sudah banyak teman blogger yang memanfaatkan sosial media sebagai promosi artikel atau alamat url blog utama dan bila anda gak mau di repotkan  tentang SEO optimasi blog jalan keluarnya share sosmen paling jitu menambah traffic ke blog anda.

13) TEMPLATE SEO FRIENDLY

Hasil gambar untuk SEO FRIENDLY
Kebanyakan blogger sudah menggunakan templates seo friendly karena template ini sudah jadi dari sisi optimasi menguraikan artikel anda di blog Anda, seperti sudah ada widget artikel terkait, widget sosial media dan yang lainnya yang menunjang SEO blog Anda.

Ke Mana Semua Kekuasaan Menghilang ?

Bidang politik pun semakin banya ilmuan yang meng-interprestasikan struktur politik manusia sebagai sistem pemprosesan data. Sebagai mana ...