Search This Blog

Konsepsi Metalis atas Uang

Hasil gambar untuk Konsepsi Metalis atas Uang

“LEBIH gampang menulis tentang uang daripada mendapatkannya, dan mereka yang memperolehnya, menertawakan mereka yang hanya tahu bagaimana menulis tentang uang”, demikian Voltaire suatu kali menulis dalam entri ‘uang’ di ensiklopedia filsafatnya. Ia agaknya sedang menghibur diri sendiri, juga barangkali orang-orang di kemudian hari yang akan menulis soal uang sambil terus kesulitan uang sepanjang hidupnya—seperti, Marx.

Sejarawan E. F. Schumpeter punya nama bagus untuk membelah para pemikir yang memperdebatkan teori tentang uang dalam sejarah ekonomi; kaum Kartalis dan kaum Metalis. Kaum Kartalis adalah barisan pemikir yang meyakini uang sebagai simbol unit moneter tidak ada kaitannya secara logis dengan komoditas. Bukan besaran komoditas yang menentukan besaran uang, melainkan besaran uang yang menentukan besaran komoditas. Bagaiamana bisa? Dari mana uang mendapat otoritas sebagai Dewa para komoditas ini? Dari ‘kesepakatan’ antar penukar komoditas (komunitas atau negara) yang berdaulat, yang masing-masing membutuhkan ‘manfaat’ (utility) dari komoditas yang tidak ia miliki. Dalam konsepsi ini, komoditas dilihat sebagai benda yang tidak memiliki nilai pada dirinya sendiri. Nilai komoditas ditentukan dalam aras pertukaran oleh aktor-aktor ekonomi secara subjektif. Oleh sebab itu pembedaan antara nilai dengan nilai-tukar atau harga tidak diperlukan. Akar pemikirannya bisa dilacak dari Plato, V. G. Ortes, Boisguillebert, Nicholas Barbon, Uskup Barkeley, John Law, hingga Sir James Stuart. Abad ke-20 yang telah lewat jadi saksi bagaimana paradigma ini jadi dominan pasca ambruknya Wall Street tahun 1929 dan berpuncak pada dilanggarnya perjanjian Bretton Woods menjelang perang AS-Vietnam. Sampai beberapa tahun terakhir, sistem moneter dunia praktis dikuasai oleh Dollar AS dengan sistem uang fiatnya yang tak memiliki basis apapun bagi tiap lembar uang selain kepercayaan rakyat pada kedaulatan negara.

Di sisi lain ada kaum Metalis yang memandang fungsi uang pertama-tama sebagai sarana pertukaran antar komoditas. Terkait fungsinya ini, uang mestilah terkait langsung dengan komoditas. Uang, menurut para Metalis, mesti bersandar pada substansi material yang seperti halnya komoditas, juga memiliki nilai-guna dan nilai intrinsik yang terpisah dari fungsi moneternya. Uang karena itu dipahami sebagai sebentuk komoditas. Tanpa bersandar pada komoditas, uang tidak akan memiliki ukuran yang jelas atas nilainya. Di balik pandangan ini terdapat pengandaian bahwa komoditas memiliki nilai di dalam dirinya sendiri dan karena itu berbeda dari bentuk moneternya dalam rupa harga; satu pandangan yang berlawanan dengan tradisi kaum Kartalis. Akar pemikirannya bisa dilacak sejak Aristoteles dan berpuncak pada ekonomi-politik Klasik hingga Marx. Dalam konteks ekonomi-politik internasional, pandangan ini mengalami revival beberapa tahun terakhir seiring dengan diberlakukan kembalinya uang berbasis emas dalam Rubel dan Renminbi, berikut jaringan transfer moneter CIPS (The Cross-Border Inter-Bank Payment System) yang makin meluas.

Diskusi Marx soal uang awalnya adalah bagian kritik terhadap program sosialis utopis yang sedang menjamur di zamannya. Mentornya, Proudhon yang bersama sosialis lain seperti John Gray dan J. F. Bray sedang giat mengujicobakan bank rakyat dan ‘uang kerja’ yang mengangankan sosialisme dalam bentuk mekanisme kerja yang diupah bukan dengan uang, melainkan dengan sertifikat jam-kerja atau ‘nota uang’ yang dapat ditukarkan dengan komoditas dari bank sentral. Mereka agaknya mengira “uang adalah sumber segala kejahatan”,sehingga penumpasan kejahatan mesti menyasar uang. Bagi Marx, uang bukan sumber segala kejahatan. Uang bukanlah akar dari segala carut-marut ‘degradasi moral’ masyarakat. Lebih lagi, uang juga bukan akar ketimpangan dan kemiskinan. Uang hanyalah fenomena permukaan, atau lebih persisnya fenomena sirkulasi yang bentuk-bentuknya merupakan perpanjangan dari bentuk-bentuk produksi. Ubahlah corak produksi masyarakat maka corak sirkulasi masyarakat juga akan berubah—demikian pandangan Marx dan Marxis yang waras. Kurang tepat karenanya memandang transisi dari corak produksi kapitalis menuju corak produksi sosialis dapat bersandar pada reformasi sistem keuangan.

Selain menyasar para utopis di atas, diskusi Marx tentang uang juga adalah bagian dari kritik terhadap ekonomi-politik Klasik yang bagi Marx gagal menemukan konsep bentuk-nilai (value form). Smith dan Ricardo memang sudah memiliki konsep nilai-tukar sebagai “daya untuk membeli barang lain”. Keduanya juga sudah mengasalkan harga atau nilai-tukar pada ranah produksi. Sayang, keduanya tidak spesifik soal bentuk kerja khas dalam corak produksi kapitalis. Padahal bentuk kerja yang khas ini yang dapat menerangkan transformasi nilai ke nilai-tukar. Dalam Smith kita temukan teori ongkos produksi (upah+sewa+laba) sebagai sumber nilai, sedang Ricardo mengajukan teori embodied labour yang menyatakan nilai berasal dari jumlah kerja yang dibutuhkan untuk produksi komoditas. Keduanya tidak lantas bertanya mengapa kerja mewujud dalam nilai dan mengapa pengukuran kerja lewat durasinya mewujud di dalam besaran nilai produk—artinya, mengapa waktu kerja terungkap melalui nilai.

Apabila bentuk nilai atau nilai-tukar adalah bentuk penampakan (form of appearance) dari nilai, dan nilai ditentukan oleh waktu kerja sosial, maka tiap relasi komoditas sejatinya adalah juga relasi antar jumlah-jumlah kerja. Di sini konsep Marx tentang kerja abstrak sebagai sumber nilai dan rata-rata waktu kerja yang dibutuhkan secara sosial sebagai sarana pengukur nilai jadi penting. Kerja abstrak adalah jenis kerja yang amat berlainan dengan bentuk-bentuk kerja pra-kapitalis semisal kerja budak atau kerja perupetian. Ia hadir berkat meluasnya pembagian kerja masyarakat. Dalam kerja abstrak (atau kerja-upahan) yang dijual pekerja bukan hasil kerjanya, melainkan waktu kerjanya. Dengan bentuk kerja yang didasarkan pada pengukuran waktu inilah konsepsi nilai (value) jadi dimungkinkan. Bagaimana bisa? Sebab dengan kerja abstrak, kerja manusia dapat dikuantifikasi. Apabila kerja manusia dapat dikuantifikasi maka demikian juga dengan produk kerjanya, yakni komoditas. Dengan bentuk kerja yang diukur secara kuantitatif lewat waktu kerja inilah besaran nilai produk dapat dihitung secara persis. Kerja abstrak adalah sumbernya, dan waktu kerja sosial adalah sarana pengukur besarannya. Tanpa jenis kerja yang dapat dikuantifikasi, konsep nilai belum dimungkinkan. Inilah sebabnya corak produksi kapitalis dapat dikatakan menyediakan prasyarat bagi terciptanya pertukaran yang adil yang selama ribuan tahun diperdebatkan mungkin tidaknya oleh para pemikir.

Dengan ini jadi terang mengapa Marx adalah seorang Metalis dalam teori tentang uang. Ia, sebagaimana Metalis lain, meyakini uang pada dasarnya adalah komoditas, namun ia berbeda dari Metalis lain sejauh ia membangun teori uang-nya dalam rangka membuktikan teori nilai-kerja sekaligus; teori Marx tentang uang bersarang pada teori nilai-kerja Marxian.

No comments:

Post a Comment

komentar

Ke Mana Semua Kekuasaan Menghilang ?

Bidang politik pun semakin banya ilmuan yang meng-interprestasikan struktur politik manusia sebagai sistem pemprosesan data. Sebagai mana ...