Search This Blog

Filsafat dan Ilmu Manajemen Bisnis

"Konsep filsafat manajemen bisnis terkait dengan perkembangan ilmu manajemen"


Perkembangan dunia sekarang ini mendorong beragam refleksi ilmiah, termasuk filsafat dan manajemen, untuk terlibat dengan beragam persoalan dunia. Kita hidup di dunia yang saling terkait satu sama lain. Ekonomi tidak bisa dipisahkan dengan kebudayaan, politik, seni dan budaya sebuah masyarakat. Perubahan pada satu bagian masyarakat akan mempengaruhi bagian-bagian lainnya. Inilah yang disebut sebagai interdependensi, yakni kesalingterkaitan dari segala sesuatu yang ada di alam semesta. Fakta ini juga mempengaruhi tingkat persaingan global antara berbagai negara dan berbagai perusahaan di bidang ekonomi. Untuk bisa bertahan dan berkembang di era persaingan global semacam ini, kita membutuhkan cara berpikir dan penerapan tindakan yang tepat. Di titik inilah filsafat manajemen bisnis memainkan peranan penting.

Persaingan global juga mengubah fokus dari ilmu manajemen menjadi peningkatan efisiensi dan efektivitas kinerja perusahaan. Ini dianggap sebagai cara terbaik untuk bertahan dan mengembangkan perusahaan di era persaingan global sekarang ini. Di dalam wacana ilmu manajemen, ini disebut juga sebagai manajemen kualitas menyeluruh, atau Total Quality Management. Wacana ini menjadi paradigma dominan di dalam ilmu manajemen sekarang ini. Bagian penting dari wacana ini adalah pembangunan tata nilai di dalam perusahaan yang berjalan berbarengan dengan efektivitas dan efisiensi kinerja perusahaan. Dengan kata lain, manajemen kualitas menyeluruh melibatkan tiga hal sekaligus, yakni efisiensi, efektivitas dan panduan nilai yang jelas di dalam segala bentuk aktivitas manajemen. Dalam konteks ini, dua hal amat penting untuk diperhatikan, yakni peningkatan kreativitas di dalam perusahaan untuk melahirkan beragam penemuan baru yang bermakna, dan penguasaan jaringan informasi serta teknologi yang memadai. Semua ini melibatkan sebuah cara berpikir yang kritis dan menyeluruh yang hanya bisa ditawarkan oleh filsafat.

Berbagai kemampuan ini dibutuhkan, karena perekonomian dunia terus berkembang. Seluruh dunia kini terlibat dalam perdagangan dengan intensitas yang luar biasa tinggi. Barang, jasa dan uang dipertukarkan dalam jumlah raksasa setiap detiknya di berbagai belahan dunia. Anak muda di kamarnya bisa dengan mudah membeli barang yang dijual dari daerah lain di belahan dunia lainnya. Tingkat produksi dan konsumsi global mencapai angka tertinggi sepanjang sejarah manusia. Semua perkembangan ini membawa sebuah kesadaran baru, bahwa dunia kita ini terbatas. Sumber daya yang terkandung di dunia ini, yang menjadi bahan dasar untuk produksi dan konsumsi, juga terbatas. Wacana di dalam ilmu manajemen kini mulai membicarakan tanggung jawab ekologi, yakni tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan hidup secara keseluruhan. Wacana ini amat penting, terutama karena begitu banyak perusahaan yang mengeruk sumber daya alam dan membuang limbah sembarangan, tanpa memperhatikan kelestarian alam secara keseluruhan.

Banyak pakar manajemen yang kini menempatkan tanggung jawab sosial sebagai inti utama dari bisnis. Dorongan mencari untung tidak boleh melebihi tanggung jawab sosial yang selalu lahir dari setiap praktek bisnis. Beberapa contoh konkret dari hal ini adalah kesetaraan gender di dalam dunia kerja, pembatasan bonus dan upah untuk para pimpinan perusahaan, transaksi yang melibatkan nilai-nilai moral yang jelas serta kepedulian pada kelestarian ekosistem secara keseluruhan. Hal-hal ini kini meresapi seluruh penelitian ilmu manajemen. Kegagalan perusahaan untuk melibatkan diri secara aktif di dalam perwujudan hal-hal di atas dianggap secara langsung sebagai kesalahan pihak manajemen perusahaan. Ketika perusahaan dan praktek bisnis secara keseluruhan memperhatikan hal ini, maka ini akan mempengaruhi terciptanya budaya perusahaan yang baik untuk semua pihak. Budaya perusahaan ini akan meningkatkan kinerja perusahaan dalam kaitan dengan tanggung jawab sosial terhadap masyarakat secara luas.

Arti penting dari hadirnya budaya perusahaan ini semakin jelas, karena kita hidup di dalam masyarakat yang semakin rumit dan dinamis. Tata nilai mengalami perubahan begitu cepat, akibat perubahan masyarakat yang juga amat cepat. Apa yang baik dan buruk tidak lagi sejelas di masa lalu. Berbagai arahan nilai memberikan petunjuk dan pertimbangan di antara berbagai keadaan yang ada. Ini tentu menciptakan kebingungan dan ketidakpastian yang besar. Beban keputusan dan tanggung jawab yang harus dibuat pun juga semakin besar. Pada beberapa kasus, ini menciptakan beban yang berlebihan bagi para pimpinan bisnis. Mereka tidak mampu lagi mempertimbangkan semua hal yang ada di dalam membuat keputusan. Akibatnya, kinerja mereka dan organisasi yang mereka pimpin pun menurun. Pada titik ini jelas dibutuhkan suatu cara berpikir baru yang berfokus pada jalan keluar yang menyeluruh. Cara berpikir baru ini tidak hanya harus mempertimbangkan aspek-aspek langsung yang terkait dengan bisnis, tetapi juga aspek-aspek lainnya di luar bisnis itu sendiri, seperti persoalan-persoalan politik dan ekonomi yang ada di dalam masyarakat luas.

Cara berpikir yang menyeluruh ini juga menjadi dasar dari sosok manajer di abad 21 ini. Ia tidak hanya merupakan figur otoritas, tetapi juga harus memberikan pendasaran yang masuk akal bagi otoritasnya tersebut. Dalam konteks ini, ia sekaligus adalah figur dan teman bagi orang-orang yang dipimpinnya. Ia menyediakan arah bagi organisasi yang dipimpinnya dengan menetapkan target pencapaian kerja, memimpin rapat dan koordinasi, berhubungan dengan media massa, berhubungan dengan pemerintah, menjadi perantara di antara berbagai bagian organisasi, meredakan konflik dan sebagainya. Ia menekankan, apa yang menjadi fokus utama dan pendamping di dalam organisasinya. Kepercayaan menjadi kata kunci disini. Segala yang dilakukan seorang manajer akan menjadi percuma, jika ia tidak mendapatkan kepercayaan dari orang-orang yang ia pimpin. Kepercayaan ini bisa lahir, karena sang manajer menepati janjinya kepada orang-orang yang dipimpinnya, dan juga karena ia mampu melihat keadaan organisasi dari apa yang disebut sebagai metaperspektif, yakni melihat segalanya dari kaca mata yang lebih luas. Metaperspektif ini berakar pada kesadaran, bahwa tidak ada yang pasti di dalam hidup. Ada beragam kemungkinan yang bisa timbul dari beragam keadaan. Untuk bisa membuat keputusan yang tepat di tengah keadaan yang tidak pasti ini, seorang manajer membutuhkan kebijaksanaan. Kebijaksanaan ini adalah kemampuan untuk melihat apa yang ada di balik dari berbagai gejala yang tampak di depan mata. Dengan kata lain, ia bisa melihat akar dari semua keadaan yang terjadi. Kemampuan berpikir kritis dan analitis yang dikembangkan filsafat jelas amat berguna disini.

Dengan mempertimbangkan hal ini, maka filsafat manajemen bisnis jelas merupakan aspek yang amat penting di dalam ilmu manajemen. Filsafat manajemen bisnis tidak hanya membicarakan proses-proses manajerial, seperti kecenderungan di dalam ilmu manajemen, tetapi juga cara berpikir dan pandangan dunia yang mendorong orang untuk bertindak dan berperilaku tertentu di dalam konteks bisnis. Filsafat manajemen bisnis juga membuka ruang besar untuk melihat kaitan antara dunia bisnis dengan bidang-bidang lainnya di kehidupan manusia secara kritis dan mendasar. Filsafat manajemen bisnis juga dapat dilihat sebagai kajian lintas ilmu yang tidak hanya mencoba memahami praktek-praktek bisnis yang telah terjadi, tetapi juga menawarkan arah bagi perkembangan bisnis di kemudian hari dalam kaitan dengan kehidupan manusia secara keseluruhan. Filsafat manajemen bisnis, menurut Fall Hecker, adalah puncak perkembangan dari ilmu manajemen yang telah terjadi sejak 1960-an lalu di Eropa dan Amerika Serikat. Bagan dari Hecker in kiranya bisa membantu.

Filsafat manajemen bisnis adalah sebuah kajian yang bersifat reflektif, kritis, rasional dan sistematis tentang cara berpikir serta nilai-nilai yang mendasari tata kelola sebuah perusahaan ataupun organisasi bisnis lainnya. Filsafat manajemen bisnis bergerak di dua tingkat, yakni mengamati apa yang terjadi di dalam beragam praktek manajemen bisnis sekarang ini (deskriptif-faktual) dan memberikan arah untuk pengembangan tata kelola tersebut berdasarkan pada kesadaran yang bersifat menyeluruh (normatif-prinsipiil). Dalam konteks ini, yang amat ditekankan adalah pengaruh cara berpikir manusia yang bermuara pada lahirnya tindakan dan kebiasaan di dalam tata kelola perusahaan bisnis. Karena juga banyak berbicara soal pikiran dan cara berpikir manusia, filsafat manajemen bisnis juga perlu belajar dari perkembangan terbaru di dalam penelitian otak dan neurosains. Sikap kritis dan reflektif menjadi bagian utama di dalam penelitian-penelitian filsafat manajemen bisnis.

No comments:

Post a Comment

komentar

Ke Mana Semua Kekuasaan Menghilang ?

Bidang politik pun semakin banya ilmuan yang meng-interprestasikan struktur politik manusia sebagai sistem pemprosesan data. Sebagai mana ...