Di dalam filsafat dan ilmu pengetahuan, kebenaran didekati melalui proses berpikir rasional. Di dalam proses berpikir ini, beragam pendapat diuji dengan akal sehat dan pembuktian nyata. Kerja sama dengan orang lain dalam bentuk dialog dan diskusi memainkan peranan penting. Di dalam semua proses ini, kemampuan berpikir kritis amat diperlukan. Berpikir kritis berarti mengajukan pertanyaan secara rasional dan sistematis atas segala pendapat yang telah ada sebelumnya. Dalam hal ini, orang juga dituntut untuk melihat hal-hal lama secara baru. Dengan kata lain, orang diminta untuk berpikir secara kreatif. Semua penemuan, mulai dari pesawat terbang, mobil, kereta api dan obat-obatan, muncul dari cara berpikir kritis ini. Para penemu adalah orang-orang yang mempertanyakan pola pikir yang berkembang pada jamannya, dan menawarkan cara pandang yang lain. Dalam arti ini, kreativitas bukan hanya berarti orang mencoba mempertanyakan pendapat orang lain, tetapi juga ia mempertanyakan sudut pandangnya sendiri. Setiap orang memiliki pola berpikir yang terbentuk dari latar belakangnya, seperti hubungan dengan orang tua, proses pendidikan di sekolah, informasi serta pengetahuan yang ia peroleh dan pergaulan umumnya di masyarakat. Ini juga disebut sebagai skemata berpikir. Berpikir kritis dan kreatif berarti mencoba untuk keluar dari skemata semacam ini, dan mengajukan sudut pandang baru.
Skemata ini aktif, misalnya, ketika kita mendengar satu kata: hitam. Kata itu langsung membuat kita berpikir tentang hal-hal yang terkait dengan warna hitam di dalam hidup kita, misalnya ban mobil, baju hitam, rambut hitam, warna langit di malam hari dan sebagainya. Pikiran kita bagaikan jaringan yang berisi beragam arti kata hitam. Jaringan tersebut bereaksi, ketika kita mendengar kata hitam. Hal ini juga berlaku untuk berbagai contoh lainnya. Kita berpikir selalu dalam jaringan yang memiliki pola tertentu di dalam diri kita. Semua informasi baru yang kita terima selalu diolah dengan berpijak pada skemata, atau jaringan terpola, yang sudah ada sebelumnya. Proses perbandingan selalu terjadi, ketika kita mendengar hal-hal baru. Jaringan yang terpola ini menciptakan hal-hal yang familiar di dalam diri kita. Kita menjadi terbiasa dengan pola berpikir tertentu. Jika ini dibiarkan, kita menjadi amat nyaman dengan pola pikir kita, dan sulit untuk berpikir kreatif. Kita menjadi sulit untuk menemukan sudut pandang baru. Untuk bisa berpikir kreatif, kita perlu meninggalkan pola berpikir kita yang lama. Kita perlu meninggalkan zona nyaman dalam hidup kita. Kemampuan ini amat penting, supaya kita bisa menghadapi beragam tantangan hidup yang muncul, yang sejatinya terus berubah setiap saat.
Untuk bisa memahami cara kerja pikiran kita, dan kemudian menemukan cara untuk berpikir secara baru, kita perlu juga sedikit memahami salah satu organ biologis terpenting di dalam diri kita, yakni otak. Otak manusia memiliki milyaran jaringan saraf. Namun, hanya sebagian yang sungguh digunakan dalam hidup sehari-hari. Beragam penelitian di bidang neurosains, atau ilmu saraf, menegaskan, bahwa otak manusia memiliki dua bagian, yakni otak kiri dan otak kanan. Bagian otak kiri memiliki peran menggerakkan tubuh bagian kanan. Ia juga memungkinkan manusia berpikir secara analitis, sistematis dan masuk akal. Bagian otak kanan menggerakan tubuh bagian kiri, dan mumungkinkan manusia untuk merasa dan menyatakan perasaannya melalui karya. Emosi dan intuisi manusia dimungkinkan, karena bagian otak kanan ini. Pembagian ini dirumuskan oleh seoran ilmuwan saraf yang bernama Roger Perry.
Pembagian otak kiri dan otak kanan ini lalu banyak ditanggapi secara kritis. Salah satunya dari penelitian yang dibuat oleh Ned Herrmann. Baginya, otak manusia terdiri dari bagian atas dan bawah. Bagian atas terdiri dari bagian kortikal dan selebral. Sementara, bagian bawah terdiri dari bagian limbik. Bagian limbik berada di pusat otak dan memungkinkan manusia untuk merasa. Ia juga memungkinkan orang untuk mengambil sudut pandang orang lainnya, dan melihat dari sudut pandang lain. Kemampuan berpikir rasional dan analitis dimungkinkan oleh bagian atas otak manusia. Herrmann kemudian menjelaskan lebih detil kedua pembagian tersebut ke empat area otak manusia.
Bagian Otak Kemampuan Profesi yang cocok
Kuadran A Analisis, logis teknis, matematis,
konseptual Insinyur, ilmuwan, banker
Kuadran B Organisasional, struktur, administrator,
konservatif, terkontrol, terencana Akuntan, manajer
Kuadran C Sensitif secara emosional, musikalis,
spiritual, terampil dengan bahasa,
kemampuan sosial tinggi. Guru, pekerja rumah sakit, pekerja sosial
Kuadran D Berpikir menyeluruh, berbakat seni,
peka pada detil, konsepsional. Wirausahawan, penulis, seniman.
Setiap bagian memiliki kemampuannya masing-masing. Orang yang bagian atas otaknya lebih berkembang cenderung memiliki kemampuan untuk berpikir analitis, logis, teknis, matematis dan konseptual. Mereka juga cenderung untuk mampu berpikir secara terstruktur, terkontrol dan terencana. Beragam profesi yang cocok dengan pola pikir semacam ini adalah ilmuwan, banker, insinyur dan manajer. Sementara itu, orang yang bagian bawah otaknya, yakni bagian limbik, lebih berkembang cenderung untuk mampu merasa secara emosional, berbakat bermain musik, spiritual, berpikir menyeluruh serta terampil dengan bahasa. Mereka amat cocok untuk bekerja sebagai pekerja sosial, guru, pekerja di rumah sakit, wirausahawan, penulis dan seniman. Pandangan Herrmann tentang empat area otak manusia ini banyak diacu. Namun, pandangan ini juga perlu ditanggapi secara kritis. Otak manusia tidak pernah bekerja secara sendirian. Ia merupakan bagian dari sebuah sistem biologis yang disebut sebagai tubuh manusia.
Tubuh manusia juga tidak pernah berdiri sendiri. Ia juga merupakan bagian dari sistem lainnya yang lebih besar, yakni lingkungan alam dan lingkungan sosial. Kesalingterkaitan ini tidak pernah boleh dilupakan.
No comments:
Post a Comment
komentar