Search This Blog

Melatih Empati Politik

Hasil gambar untuk Empati politik

Melatih Empati
Lalu, mengapa kemampuan empati ini tidak berkembang? Mengapa ada orang yang tidak punya empati pada orang lainnya, sehingga menimbulkan prasangka dan akhirnya konflik? Pada orang-orang cacat dan yang mengalami autisme, atau ciri-ciri autistik dalam dirinya, empati memang amat sulit dilakukan. Pada beberapa kasus, empati malah tidak mungkin dilakukan, karena keterbatasan psikis dan fisik yang nyaris tak bisa dihindari.

Pada orang-orang lainnya, yang dianggap tak memiliki cara psikis maupun fisik yang berat, empati tidak tumbuh, karena tidak dikembangkan dalam pola didik maupun pola hubungan di dalam lingkungan hidupnya (keluarga, sekolah, dan lingkungannya). Saya kira, inilah yang terjadi di Indonesia dan banyak sistem pendidikan lainnya di dunia. Pendidikan mengajarkan orang menghafal buku dan perintah agama, tetapi tidak mengajarkan orang berempati, yakni sungguh berpikir dan merasa dari sudut pandang orang lain, yang punya kisah dan sejarah hidup yang amat berbeda darinya.

Seperti dengan kemampuan manusia lainnya, empati juga lahir dari pengetahuan dan kebiasaan. Ia tidak cukup hanya diketahui secara konseptual melalui pikiran, tetapi juga melalui latihan sehari-hari dalam hidup. Dengan kata lain, empati adalah kemampuan tubuh, dan bukan hanya kemampuan otak. Empati mesti dimasukan ke dalam diri (Verinnerlichung), sehingga ia menjadi otomatis, seperti layaknya manusia bernafas.

Politik Empati

Empati amat penting, tidak hanya di kehidupan pribadi dengan orang yang kita cintai, tetapi juga dalam bidang politik. Politik tanpa empati hanya akan menciptakan penderitaan, terutama bagi rakyat kecil. Politik tanpa empati hanya akan menciptakan kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Akhirnya, politik tanpa empati akan menciptakan perang saudara dan perang antar bangsa, yang menghancurkan harapan dan hidup banyak orang.

Sebaliknya, politik dengan empati akan sungguh berusaha memahami penderitaan orang lain, dan berusaha menanggapinya dengan cara-cara yang tepat. Politik dengan empati akan mengeluarkan kebijakan yang menyejaterahkan semua orang, tanpa kecuali. Politik dengan empati akan menciptakan perdamaian dan hati yang tenang. Hal-hal hebat di dunia ini hanya dapat dicapai, jika orang bekerja sama, dan kerja sama yang sejati dapat dilakukan, jika orang saling berempati satu sama lain.

Namun, empati tidak datang begitu saja. Ia adalah kemampuan alamiah manusia, namun tetap harus dikembangkan melalui pola asuh dari orang tua, pola didik dari sekolah, dan pola teladan dari lingkungan sosial. Dengan kata lain, empati harus menjadi suatu gerakan bersama seluruh masyarakat dengan pemerintah sebagai teladannya. Pepatah lama menyatakan, ikan busuk dari kepalanya. Jika pimpinan politik suatu negara (kepala) sudah korup (busuk), maka rakyatnya pun akan ikut korup dan busuk. Salah satu ciri orang (dan juga pemerintah) yang korup dan busuk adalah tidak adanya empati dalam dirinya.

Kemana?

Apa yang mesti dilakukan, ketika kita berhadapan dengan orang atau kelompok yang tidak mempunyai empati? Apakah kita juga mesti mematikan empati kita, lalu menjadi sama seperti mereka? Jawabannya jelas tidak! Jika kita hanya mau berempati dengan orang yang bisa berempati dengan kita, maka kita masih berusaha menelan orang lain ke dalam konsep-konsep yang ada di dalam kepala kita sendiri, tanpa peduli dengan “keberlainannya” sebagai manusia.

Harus juga diingat, bahwa orang tak bisa berempati, bukan karena ia tidak mampu, tetapi karena ia tidak memperoleh pola pengasuhan yang memungkinkan tumbuhnya empati dari lingkungannya. Empati harus muncul dari dalam diri, dan tak bisa dipaksakan dari luar. Maka, dialog tanpa henti adalah jalan satu-satunya untuk mengundang empati dari pihak lain. Tidak ada jalan lain.

Ini mungkin sulit, tetapi menjadi amat perlu, guna mengurangi konflik dan ketegangan antar pribadi maupun antar kelompok. Perdamaian tidak datang dengan mudah. Sejarah bangsa-bangsa di dunia sudah menunjukkannya. Yang paling mudah adalah merawat perdamaian yang sudah ada, dan salah satu cara yang paling penting adalah dengan berempati. Pertanyaan di atas, Empati, Kemanakah Dirimu? bisa dijawab dengan lugas, ia ada, dan terus ada, dan tinggal menunggu untuk diwujudkan.

No comments:

Post a Comment

komentar

Ke Mana Semua Kekuasaan Menghilang ?

Bidang politik pun semakin banya ilmuan yang meng-interprestasikan struktur politik manusia sebagai sistem pemprosesan data. Sebagai mana ...