Search This Blog

Filsafat

Hasil gambar untuk Filsafat dan Pikiran Manusia

Di dalam filsafat, kita mengenal setidaknya lima cabang umum.

Yang paling mendasar adalah metafisika, yakni penyelidikan keseluruhan kenyataan. Metafisika ini terkait dengan ontologi, yakni pemahaman tentang “ada” yang menjadi dasar/hakekat dari segala sesuatu. Dua hal ini dipandu dengan cabang ketiga dari filsafat, yakni logika.

Logika dapat dimengerti sebagai seni berpikir lurus dengan menarik kesimpulan dari premis-premis yang bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya. Dengan pola pikir yang lurus ini, orang lalu bisa sampai pada kebenaran-kebenaran yang bersifat kontekstual dan partikular.

Cabang keempat adalah etika, yakni kajian kritis atas pemahaman tentang baik dan buruk yang ada di masyarakat. Etika mencangkup kajian kritis dan rasional atas berbagai kemungkinan tindakan manusia di dalam keadaan-keadaan tertentu.

Cabang kelima adalah estetika, yakni pemahaman tentang keindahan di dalam berbagai bentuknya, misalnya di dalam seni dan alam.

Cabang keenam adalah filsafat manusia, yakni pemahaman tentang manusia dan kaitannya dengan dunianya.

Filsafat, secara umum, hendak memahami dunia manusia dengan menggunakan berbagai kajian yang kritis dan rasional. Dalam arti ini, peran bahasa dan logika amatlah penting. Bahasa tidak hanya dipahami sebagai alat komunikasi dan alat menyampaikan ide semata, tetapi juga sebagai pengandaian dasar sekaligus batas-batas dari tindak berpikir manusia. Dengan bahasa, manusia bisa menciptakan dan memahami dunianya.

Sejak Descartes, tindak berpikir menjadi pusat dari filsafat Barat.Cara berpikir semacam ini lalu melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, seperti kita kenal sekarang ini. Namun, tindak berpikir semacam ini harus dipandu juga dengan logika. Artinya, segala penarikan kesimpulan dan pernyataan yang dibuat harus berpijak pada penalaran yang runtut sekaligus bisa dibuktikan melalui pengalaman nyata. Dari sinilah lahir metode penelitian ilmiah yang menggunakan bahasa-bahasa yang akurat di dalam menyampaikan argumen. Namun, harus juga disadari, bahwa bahasa bukanlah benda mati yang tak bisa berubah. Bahasa selalu bersifat dinamis, bergerak dan berubah dalam kaitan dengan bidang-bidang lainnya yang juga terus berubah. Selalu ada kemungkinan penafsiran lain dari arti suatu kata atau kalimat. Bahasa adalah gabungan antara kebetulan dan ketepatan di dalam tindak berpikir manusia.

Manusia juga bisa menjadi manusia, karena bahasa yang ia gunakan. Salah satu prinsip dasar filsafat adalah tindak berpikir. Dalam arti ini, pendapat Rene Descartes, filsuf Prancis abad ke 16, kiranya perlu didengar, bahwa tindak berpikir adalah ciri dari keberadaan manusia. Aku berpikir maka aku ada, demikian kata Descartes. Ia sampai pada pemahaman ini, setelah meragukan segalanya, dan sampai pada sesuatu yang tak bisa lagi diragukan, bahwa aku sedang meragukan. Dan untuk bisa meragukan, manusia perlu berpikir.

Maka, tindak berpikir adalah tindak fundamental yang tak terbantahkan.

No comments:

Post a Comment

komentar

Ke Mana Semua Kekuasaan Menghilang ?

Bidang politik pun semakin banya ilmuan yang meng-interprestasikan struktur politik manusia sebagai sistem pemprosesan data. Sebagai mana ...