Search This Blog

Filsafat Indonesia

Hasil gambar untuk Indonesia
Sebagai sebuah bangsa dan tata negara, Indonesia lahir dari penjajahan negara-negara Eropa, terutama Belanda. Sebelum masa penjajahan, atau masa kolonialisme, tidak ada yang disebut sebagai Indonesia. Yang ada adalah beragam kerajaan mandiri dengan budaya dan keunikannya masing-masing. Setelah 1945, berkat kesamaan nasib hidup penjajahan selama ratusan tahun, lahirlah Indonesia sebagai sebuah kesadaran, pemahaman, sebagai bangsa dan tata negara (berikutnya ditambahkan beberapa daerah lainnya).

Pada hemat saya, Indonesia tidak memiliki ajaran filsafat tertentu. Yang dimiliki oleh Indonesia, sebagai sebuah bangsa-negara yang begitu majemuk, adalah beragam  pandangan dunia (Weltanschauungen) atau alam pikir yang telah ada serta berkembang selama ribuan tahun. Pandangan dunia ini menjadi bagian dari budaya, lalu menghasilkan beragam produk budaya, seperti tata nilai, ritual, pakaian, makanan, pola perilaku dan sebagainya. Inilah yang lebih banyak dikenal sebagai kearifan-kearifan lokal (local wisdoms) Indonesia.

dalam batas pengetahuan penulis di Eropa, pemahaman tentang filsafat Asia amatlah kurang.apa mungkin kita yang memang tidak ingin mengunggah tentang filsafat keindonesiaan atau memang indonesia kurang layak untuk difilsafatkan, ini boleh jadi perdebatan. (cinta indonesia itu wajib).

Filsafat berasal dari kata philo (pencinta) dan sophia (kebijaksanaan). Kata ini berasal dari bahasa Yunani Kuno, yang juga dikenal sebagai tempat kelahiran filsafat. Sulit untuk memastikan, apakah Yunani Kuno sungguh merupakan penemu filsafat. Beberapa ahli sejarah filsafat bahkan menyatakan, bahwa Yunani mengambil pemahaman filosofis dari India dan Afrika Utara. Saya tidak akan masuk ke dalam perdebatan ini.

Yang khas di dalam filsafat adalah penggunaan akal budi secara utuh dan kritis untuk memahami segala yang ada. Filsafat tidak berpijak pada iman agama tertentu. Filsafat juga tidak berpijak pada mitologi tertentu yang berkembang di sebuah kelompok budaya. Filsafat bersandar pada akal budi dan diskusi kritis untuk semakin mendekati kebenaran, serta menjadi manusia yang bijaksana.

Apakah Indonesia memiliki filsafat semacam ini? Jawabannya tidak. Indonesia memiliki ragam pandangan dunia yang luhur dan khas, namun bukan filsafat. Di dalam beragam pandangan dunia tersebut kerap kali terdapat ajaran-ajaran yang sudah tidak lagi cocok dengan perkembangan jaman, misalnya ajaran yang menomorduakan perempuan, memperbolehkan anak di bawah umur bekerja, perbudakan, poligami, diskriminasi terhadap kaum LGBT dan sebagainya.

Supaya bisa menjadi filsafat, beragam pandangan dunia yang ada di Indonesia harus diangkat menjadi tema pembicaraan yang rasional, terbuka dan kritis. Dengan kata lain, beragam pandangan dunia yang ada harus dianggap dari tingkat pra-pemahanan (yang dilakukan secara otomatis dalam hidup sehari-hari, bahkan cenderung tabu untuk dibicarakan) ke tingkat pemahaman (yang disadari sepenuhnya sebagai sesuatu yang terbuka untuk perubahan). Ada tiga keuntungan dari hal ini.

Pertama, Indonesia bisa melepaskan diri dari pandangan-pandangan dunia yang menyembunyikan beragam penindasan. Indonesia bisa belajar dari kesalahan masa lalunya, dan berubah ke arah yang lebih baik dan terbuka. Beragam praktek perbudakan, diskriminasi dan kesempitan berpikir yang berkembang di masa lalu bisa dianggap sebagai proses belajar dan pendewasaan budaya. Hanya dengan beginilah Indonesia bisa menjadi bangsa besar.

Kedua, beragama pandangan dunia yang berharga tersebut bisa menjadi inspirasi untuk pembangunan di masa sekarang. Indonesia tidak lagi melulu melihat ke luar negeri untuk mencari teori ataupun model pembangunan, tetapi bisa melihat ke dalam kekayaan budayanya sendiri yang begitu beragam dan berharga. Dengan cara ini, Indonesia bisa menerapkan pembangunan yang berpijak pada nilai-nilai Ke-Indonesiaan, dan tidak lagi tunduk pada nilai-nilai Barat ataupun Arab, seperti sekarang ini.

Ketiga, pengembangan filsafat Indonesia juga memiliki peran besar di dalam hubungan antar bangsa. Dengan panduan nilai dan filsafat yang jelas, Indonesia bisa berdiri sejajar dengan peradaban-peradaban besar lainnya di dunia, seperti peradaban Cina, India dan Eropa. Dialog pun bisa dilakukan dalam keduduan setara, dan bukan dengan sikap tidak percaya diri, seperti yang sekarang ini banyak terjadi.

Filsafat Indonesia bisa mendorong proses Indonesia menjadi bangsa yang besar. Bangsa yang besar tidak hanya ternama di antara bangsa-bangsa lainnya, tetapi juga menjadi amat manusiawi terhadap warganya. Ini semua membutuhkan panduan nilai maupun filsafat yang jelas. Harapannya sederhana, kita bisa berdiri tegak sebagai orang Indonesia di kancah politik dunia internasional, dan menawarkan pencerahan yang membawa pada perdamaian dunia dan kemakmuran global.

No comments:

Post a Comment

komentar

Ke Mana Semua Kekuasaan Menghilang ?

Bidang politik pun semakin banya ilmuan yang meng-interprestasikan struktur politik manusia sebagai sistem pemprosesan data. Sebagai mana ...