Di dalam tradisi filsafat Timur, terutama Buddhisme, pikiran manusia berperan amat besar di dalam kehidupan. Segala yang ada di dunia ini, yang dapat dipahami manusia melalui konsep dan teori, adalah hasil ciptaan dari pikiran manusia. Hidup kita dan sikap kita di dalam menanggapi beragam hal yang terjadi juga merupakan hasil dari cara berpikir kita. Segala perubahan di tingkat sosial hanya mungkin, jika manusia pertama-tama mengubah cara berpikirnya. Segala rencana bisa terwujud, jika manusia memiliki motivasi dan komitmen kuat untuk mewujudkan cita-cita hidupnya. Pendapat ini tidak hanya kental di dalam filsafat Timur, tetapi juga di dalam tradisi filsafat Stoa di masa Yunani Kuno, terutama di dalam pemikiran Marcus Aurelius, Kaisar Roma pada tahun 121 sampai 180.
Marcus Aurelius juga menekankan pentingnya penguasaan diri di dalam hidup.Emosi dan pikiran kerap kali membuat orang bingung. Kebingungan ini melahirkan ketegangan dan penderitaan di dalam diri. Orang yang hidupnya dipenuhi penderitaan akan membuat orang lain menderita. Inilah sumber dari beragam masalah yang muncul di dunia, mulai dari krisis ekonomi sampai dengan perang berkepanjangan. Penguasaan diri ini berarti orang mampu melihat emosi dan pikirannya sebagai sesuatu yang berbeda darinya. Orang tidak menyamakan dirinya begitu saja dengan beragam emosi dan pikiran yang muncul di kepalanya. Untuk bisa melakukan ini, orang perlu menjadi pengamat dari segala sesuatu yang muncul di dalam maupun di luar dirinya. Kemampuan mengamati ini adalah sumber dari segala kebijaksanaan. Hanya dengan begini, manusia bisa menjadi tuan atas pikirannya. Ia lalu bisa menggunakan pikirannya secara maksimal untuk menciptakan atau mengubah sesuatu, tergantung beragam keadaan yang sedang terjadi. Kemampuan untuk mengamati dan menjaga jarak dari beragam emosi dan pikiran yang muncul akan melahirkan kejernihan. Kejernihan semacam ini akan menjadi dasar bagi pikiran-pikiran yang kritis yang penting untuk perkembangan hidup manusia.
Pengetahuan manusia akan dunia juga dihasilkan oleh pikirannya. Tema ini menjadi kajian utama para filsuf Barat, mulai dari masa Yunani Kuno sampai sekarang ini. Di masa Yunani kuno, Sokrates menegaskan, bahwa pikiran rasional adalah jalan untuk menuju kebenaran dan kebijaksanaan. Terkenal juga perdebatannya dengan kaum Sofis. Keduanya masih mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan dan filsafat sampai saat ini, juga di dalam perkembangan ilmu manajemen bisnis. Keduanya melihat kebenaran sebagai proses pencarian yang dilakukan dengan menggunakan pikiran manusia. Sokrates menekankan pemikiran rasional dan langkah-langkah penarikan kesimpulan yang sistematik. Kaum Sofis menekankan seni merangkai argumen dan berbicara meyakinkan di depan umum, guna meyakinkan orang lain. Satu metode penting yang dikembangkan Sokrates adalah metode bidan, yakni membantu orang menemukan jalannya sendiri dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang merangsang pikirannya. Sampai sekarang, filsafat dan ilmu pengetahuan berkembang dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan penelitian yang kritis dan mengubah cara pandang yang sudah ada.
Plato adalah murid Sokrates yang mengembangkan pandangannya sendiri terkait dengan kemampuan berpikir kritis manusia. Ia menulis sebuah cerita kecil tentang orang-orang yang hidup di dalam gua. Intinya adalah bahwa dunia yang kita lihat sehari-hari sebenarnya hanya merupakan bayangan dari kenyataan yang sesungguhnya. Dengan akal budinya, manusia bisa mempertanyakan bayangan-bayangan ini, dan sampai pada kenyataan yang sesungguhnya. Namun, kenyataan yang sesungguhnya ini melampaui kemampuan berpikir manusia. Dengan kata lain, pikiran manusia tidak pernah akan mampu untuk mencapai pengetahuan ini seutuhnya. Selalu ada jarak antara apa yang dapat diketahui pikiran manusia, dan kebenaran atau kenyataan sebagaimana adanya. Hanya orang naif yang dipenuhi kebodohan serta kesombongan yang merasa, bahwa apa yang ia tangkap dengan panca indera dan pikirannya adalah kebenaran yang sejati. Plato mengajak kita untuk mempertanyakan apa yang kita tahu, karena itu sejatinya hanya merupakan bayangan-bayangan semata yang terus berubah. Ia mengajak kita untuk memahami hakekat dari segala sesuatu, atau apa yang disebutnya sebagai Eidos dari hal-hal yang bisa kita cerap dan pahami.
Di dalam filsafat Plato, Eidos, atau ide, adalah bentuk ideal dari hal-hal yang ada di dunia. Ia adalah semacam cetak biru dari segala sesuatu yang ada di dunia. Aristoteles, yang adalah murid Plato, melanjutkan cara berpikir semacam ini. Baginya, ide suatu benda tidaklah terletak di luar benda itu, tetapi di dalam bentuk, atau forma, dari benda itu sendiri. Ia juga nantinya mengembangkan logika sebagai hukum berpikir lurus di dalam penarikan kesimpulan. Ini menjadi dasar bagi perkembangan filsafat maupun ilmu pengetahuan, sebagaimana kita kenal sekarang ini. Di dalam logika, orang bisa menarik kesimpulan dari data-data yang ada, sehingga ia bisa sampai pada kesimpulan umum yang kurang lebih berlaku untuk semua. Sebaliknya, dengan logika, orang juga bisa memahami data-data partikular dengan berpijak pada kesimpulan umum yang sudah ada sebelumnya. Yang pertama disebut sebagai logika induksi, yakni dari yang partikular menuju yang umum. Yang kedua disebut sebagai logika deduksi, yakni penarikan kesimpulan dari hal-hal yang umum menuju hal-hal yang khusus, atau partikular.
Logika deduksi dan induksi menjadi alat berpikir yang amat berguna untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi pada abad 15 dan 16. Salah satu filsuf yang berpengaruh pada masa ini adalah John Locke. Ia menekankan pentingnya pengalaman inderawi di dalam proses pembentukan pengetahuan manusia. Manusia lahir di dunia tidak dengan ide di kepalanya. Ia bagaikan kertas putih yang siap diisi dengan berbagai hal dari pengalamannya di dunia. Inilah yang disebut tabula rasa di dalam filsafat Locke. Dari pengalaman inderawinya bersentuhan dengan dunia inilah manusia lalu mempunyai ide di dalam dirinya tentang dunia. Secara alamiah, pikiran manusia memiliki kemampuan untuk mengolah beragam macam informasi menjadi semacam bentuk pengetahuan. Hal ini terjadi melalui proses abstraksi, pembandingan maupun penarikan kesimpulan dari beragam data yang terpisah. Pikiran yang digabungkan dengan pengalaman inderawi akan melahirkan konsep dan pengetahuan. Namun, pengetahuan kita sifatnya selalu terbatas. Kita tidak pernah bisa mengetahui segalanya. Kita juga tidak akan pernah bisa memahami kebenaran yang sejati pada dirinya sendiri dengan pikiran kita.
No comments:
Post a Comment
komentar