Search This Blog

Ego -Tak - Ada

Hasil gambar untuk ego

Sejarah “Ego”

Penyelidikan tentang ego sudah lama berlangsung di dalam sejarah pemikiran manusia. Pemikiran Jawa kuno, misalnya, membedakan antara ego kecil dan ego besar. Ego kecil adalah bentukan sosial, yakni hasil dari hubungan dengan keluarga dan masyarakat secara luas. Ego besar adalah energi semesta yang sudah selalu ada, dan menjadi sumber dari kebijaksanaan hidup yang tertinggi.

Pemikiran Eropa, terutama psikoanalisis Sigmund Freud, mencoba membagi ego ke dalam tiga unsur, yakni id, ego dan superego. Id adalah dorongan-dorongan liar manusia, termasuk di dalamnya hasrat dan keinginan yang tak rasional. Ego adalah unsur pembuat keputusan dan pertimbangan. Superego adalah kumpulan ajaran moral dari masyarakat yang mengatur perilaku maupun keputusan seseorang.

Freud juga menekankan, bahwa ego yang sadar hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan ego itu sendiri. Sebagian besar pribadi manusia terdiri dari unsur ketidaksadaran (Unbewusstsein) yang justru amat mempengaruh cara berpikir dan perilakunya. Pandangan ini dilanjutkan oleh Carl Gustav Jung di tingkat sosial, yakni dengan merumuskan konsep ketidaksadaran kolektif (kollektives Unbewusstsein). Pandangan Freud dan Jung masih menjadi acuan di dalam melakukan terapi psikoanalisis sekaligus analisis sosial sekarang ini.

Eksistensi Ego

Di dalam kebijaksanaan Timur, ego dianggap ilusi. Ia tidaklah ada. Ego, sebagai bentukan sosial, adalah hasil dari kesalahan berpikir yang berkembang menjadi kebiasaan. Ilusi yang terus dipercaya akan seolah menjadi kenyataan yang tak bisa disanggah.

Apa yang disebut sebagai “diri” atau ego adalah kumpulan dari berbagai unsur yang terpisah, seperti tubuh dan pikiran. Tubuh sendiri bukanlah satu kesatuan, melainkan juga kumpulan dari organ, darah, tulang dan saraf. Pikiran juga merupakan hasil pembiasaan sosial (social conditioning) dalam hubungan dengan keluarga dan masyarakat. Perpaduan dari semua ini membentuk ego yang tanpa inti, tanpa esensi.

Pandangan ini juga didukung oleh penelitian neurosains. Beberapa pemikir besar, seperti Thomas Metzinger dari Jerman, Anil Seth dari Inggris dan Daniel Dennet dari Amerika Serikat, telah melakukan penelitian mendalam soal ego dari sudut pandang filsafat dan neurosains. Mereka sampai pada kesimpulan serupa, bahwa ego itu hanya bentukan yang tidak mempunyai inti nyata. Ego itu seperti asap atau bayangan.

Untuk Hidup Kita

Apa implikasi dari beragam teori dan hasil penelitian yang sudah sedikit disinggung sebelumnya? Jika ego tidak ada, maka pikiran dan emosi yang dialami adalah tanpa inti. Mereka semua kosong. Mereka datang dan pergi, seperti asap.

Berbagai masalah muncul, karena orang mempercayai pikiran dan emosi yang mereka rasakan. Mereka mengira, itu semua adalah kebenaran. Padahal, keduanya adalah tanpa inti dan tanpa esensi. Bentuk dasar dari keduanya adalah kosong dan ilusif.

Jika orang paham, bahwa pikiran dan emosinya adalah ilusi, maka masalah tidak lagi menjadi berat. Penderitaan yang dirasakan juga tidak lagi menjadi berat dan panjang. Semuanya hanya akan menjadi tamu yang numpang lewat, dan akan segera pergi. Hidup pun akan jauh dari penderitaan batin yang tak perlu.

Ini kiranya sesuai dengan pandangan dari kebijaksanaan Timur, terutama ajaran Buddha. Ego, dari sudut pandang Buddha, adalah sumber penderitaan. Dengan ego, orang melihat dunia melulu dari sudut pandang kepentingan dirinya. Ambisi, nafsu dan keserakahan lalu muncul tak terkendali. Padahal, ini semua adalah upaya yang sia-sia, karena ego, sesungguhnya, tak pernah ada (Anatta).

Kesadaran akan tidak adanya ego membuat segala sesuatu menjadi ringan. Pikiran dan emosi tidak lagi menekan begitu kuat. Penderitaan datang dan pergi dengan cepat. Depresi dan beragam penyakit pikiran lainnya pun tak lagi muncul dan berkembang. Ketika ego disadari sebagai tidak ada, maka kesadaran semesta di dalam diri akan secara alami tumbuh. Kesadaran semesta inilah sumber kebijaksanaan tertinggi yang bisa disadari oleh manusia.

Ketika ini dialami, maka kesehatan mental dan kedamaian batin adalah buahnya. Orang menjadi sepenuhnya rileks di dalam menjalani hidupnya, tanpa terjatuh ke dalam kemalasan dan sikap tak peduli. Inilah kunci terdalam perdamaian dunia yang bergerak lebih mendasar daripada berbagai dialog dan kebijakan politik di tingkat global. Kesadaran akan ketiadaan ego bisa menggiring orang pada kedamaian batin dan perdamaian dunia.

No comments:

Post a Comment

komentar

Ke Mana Semua Kekuasaan Menghilang ?

Bidang politik pun semakin banya ilmuan yang meng-interprestasikan struktur politik manusia sebagai sistem pemprosesan data. Sebagai mana ...